Peninjauan GSP Ancam Harga Kopi Indonesia

Peninjauan GSP berdampakharga kopi nasional tertekan dan kian mahal.

SEMARANG- Peninjauan fasilitas Generalized System of Preference (GSP) bagi Indonesia akan berdampak pada sejumlah hal. Salah satunya, harga kopi terancam tertekan untuk pasar internasional.

Produk kopi Indonesia terancam tertekan harganya karena terdampak peninjauan fasilitas Generalized System of Preference (GSP). Foto: metrojateng.com/Anggun Puspita

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah, Moelyono Soesilo mengatakan, peninjauan ulang aturan GSP dapat mengakibatkan harga kopi nasional tertekan dan kian mahal, khususnya di Amerika Serikat (AS).

“Padahal, AS masih menjadi negara pengimpor kopi Indonesia terbesar. Sehingga, dikhawatirkan peninjauan GSP akan berdampak pada berkurangnya volume ekspor kopi Indonesia kesana,” ungkapnya saat dihubungi, Jumat (10/8/2018).

Kopi Indonesia yang paling banyak diekspor ke AS adalah jenis arabika. Jika, fasilitas GSP dicabut, maka harga kopi akan tertekan.

Moelyono menjelaskan, selain menekan harga kopi, Indonesia juga terancam kehilangan pasar ekspor kopi lantaran para importir AS beralih mengambil kopi dari negara sentral seperti Columbia, Kostarika dan Uruguay karena harganya yang lebih murah.

“Rasa maupun aroma kopi yang bisa diubah dengan teknologi akan menyebabkan kopi dari negara sentral kian laku, karena rasanya bisa disesuaikan dengan kopi Indonesia,” katanya.

Meskipun, saat ini rencana peninjaun GSP belum memberikan dampak. Namun, harga kopi Indonesia yang saat ini lebih mahal 80 persen sampai 100 persen dibanding negara sentral juga perlu menjadi perhatian khusus agar ekspor tetap stabil.

“Kendati demikian, peninjauan GSP ini perlu diantisipasi. Pemerintah harus tanggap, terutama bagi produk-produk ekspor-impor dari Amerika,” katanya.

Sementara itu, selama ini secara nasional ekspor kopi Indonesia mencapai 50 juta karung per tahun hingga 10 juta karung per tahun atau senilai 400 juta dolar AS.

Pada tahun 2018 ini target ekspor kopi bisa mencapai 11,5 juta karung atau sekitar 690 ribu ton.

“Target tahun ini 11,5 juta karung atau sekitar 690 ribu ton. Kalau 2017 kemarin sekitar 10 juta–10,5 juta karung atau 600 ribu ton–630 ribu ton,” tandasnya. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.