Pengakuan Cun Ming, 65 Tahun Kelola Penangkaran Hiu di Pulau Menjangan Besar

Penangkaran hiu tersebut telah digeluti sejak 1966 silam.

Cun Ming saat ditemui di rumahnya, Jalan Sidodadi Barat, Semarang Timur. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Kasus kematian hiu secara massal di penangkaran Pulau Menjangan Besar Karimunjawa masih diselidiki Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. 

Pemilik penangkaran hiu, Minarno alias Cun Ming, saat ditemui metrojateng.com, di rumahnya pada Kamis (21/3/2019), mengaku heran. Menurutnya, proses perizinan yang diterapkan pemerintah Indonesia selama ini terkesan tumpang tindih.

Ia mengaku, selama ini aktivitas penangkaran maupun kegiatan wisata di Menjangan Besar, sudah sesuai izin dari Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Jepara. Dia juga mengaku mendapat izin terbaru dari Disporapar Jepara pada pertengahan 2018 lalu.

Cun Ming juga menyampaikan izin serupa pernah ia dapatkan dari petugas Polairut dan Balai Taman Nasional Karimunjawa.

“Malahan saya sama pihak balai sering berkerjasama kalau ada tamu yang mau berkunjung ke Menjangan Besar. Tapi kenapa kok saya sekarang malah dituduh macam-macam. Yang terakhir, saya mau ngurus izin lagi malah enggak boleh. Diminta harus satu pintu,” ujar Cun Ming.

Ia mengungkapkan penangkaran hiu sudah digeluti sejak 1966 silam. Selama 65 tahun terakhir pula tak pernah ada satu lembaga pun yang mengusik kegiatan usahanya. “Saat di hadapan penyidik Ditreskrimsus Polda, saya ditanya apakah hiu-hiu itu ada yang dijual. Saya jawab tidak ada sama sekali. Karena ini hobi saya sejak lama. Toh hiu di pasaran tidak laku. Tidak ada yang mau mendekatinya,” paparnya.

Sementara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah menyatakan proses penangkaran hiu karang hitam di Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa selama ini ilegal. Sebab, pihak balai mengklaim sampai saat ini tak pernah sekalipun menerbitkan izin penangkaran hiu di pulau tersebut.

“Berdasarkan catatan, BKSDA Jateng belum pernah sekalipun menerbitkan izin penangkaran ikan hiu, termasuk di Pulau Menjangan Besar,” kata Shokhib Abdillah, Koordinator Bidang KKH, BKSDA Jateng.

Ia mengatakan hiu bukanlah satwa yang dilindungi. Karena, menurutnya hiu termasuk ikan. Dan ikan tidak termasuk satwa liar. BKSDA, lanjut dia, hanya menangangi izin usaha penangkaran untuk biota tumbuhan dan satwa liar serta satwa yang masuk kategori apendiks CITES.

Dengan mengacu lokasi penangkarannya, Shokib menjelaskan bahwa kewenangan untuk menangani kasus kematian hiu di Menjangan Besar kini berada di tangan pengelola Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNKJ).

“Jadi untuk masalah tindakan, lebih tepat biar ditangani oleh Balai Karimunjawa,” sergahnya.

Sebelumnya, Kepala Balai Taman Karimunjawa, Agus Prabowo mengungkapkan setidaknya menemukan kurang lebih 45 ikan hiu karang hitam dan karang putih mati di Pulau Menjangan Besar. Tepatnya di penangkaran hiu milik Minarno alias Cun Ming.

Pihaknya mengaku meminta keterangan kepada Agus Hermawan, seorang penjaga kolam hiu. “Bahwa kejadian kematian hiu sebenarnya terjadi pada Kamis 7 Maret 2019 pukul 05.30 WIB,” kata Agus.

Namun pemilik penangkaran hiu, Cun Ming memberi keterangan berbeda terkait jumlah hiu yang mati tersebut. Cun Ming menyampaikan bahwa ikan hiu yang mati lebih dari seratus ekor.

“Kamis pagi penjaga penangkar menemukan ikan hiu indukan mati mengambang di kolam. Pas dihitung kurang lebih 110 ikan hiu yang mati,” ujarnya.

Dia merasa heran karena belum diketahui penyebab matinya ikan tersebut. Saat ini, kasus matinya ikan hiu tersebut dibawa ke ranah hukum dan menunggu penyelidikan tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. (far/MJ-23)

 

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.