Peneliti Temukan Situs Candi dan Perkampungan Abad IX di Mijen

Peneliti memperkirakan kontur candi di Mijen mirip Candi Prambanan, Klaten.

SEMARANG- Peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional dan Lembaga Penelitian Perancis Wilayah Asia Timur menemukan lagi candi era Mataram kuno di Kampung Duduhan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Peneliti mengekskavasi situr Candi Duduhan di Kampung Duduhan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Kamis, 2 Agustus 2018. Foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto

Temuan lain berupa bekas perkampungan Mataram kuno juga terindikasi adanya tempat persajian di sekitar candi. Namun, lubang pembakarannya diduga masih tertimbun dengan tanah.

Agus Trijanto Indrajaya, anggota Pusat Arkeologi Nasional mengatakan, ekskavasi situs Candi Duduhan berlangsung mulai akhir Juli sampai Minggu, 5 Agustus 2018.

Dalam ekskavasi yang tengah berjalan ini, tim menemukan bekas tiga perwara atau candi kecil pelengkap kompleks percandian. Ekskavasi setiap perwara kedalamannya 5×5,4 meter persegi.

“Bentuknya berupa batu tempat persajian. Penggaliannya hampir selesai. Kemudian Minggu nanti akan didata ulang,” ungkap Agus, di sela kegiatan eksavasi situs Candi Duduhan, Kamis 2 Agustus 2018.

Tiga perwara itu disinyalir kuat menjadi pintu masuk candi utama di sisi timur. Ia menyebut situs tersebut termasuk karakteristik candi siwa yang dibangun pada abad IX. Hal itu diperkuat dengan temuan jejak bangunan tempat persajian.

BACA JUGA: Situs Candi Duduhan Berawal Temuan Arca Ganesha

Agus menambahkan temuan tiga perwara di sekitar candi induk Duduhan mirip dengan kontur bangunan yang ada di Candi Prambanan, Klaten.

Terlebih lagi, kata Agus terdapat pula lokasi sandaran arca Ganesha. Untuk arcanya sempat ditemukan di lokasi yang sama pada medio 1970 silam. “Sekarang sudah disimpan di Museum Ronggowarsito Semarang,” bebernya.

Kendati demikian, ia mengaku sejauh ini masih menghitung luas area ekskavasi situsnya. “Penggalian situs akan terus berlangsung sampai menemukan tembok yang mengelilingi Candi Duduhan,” kata dia.

Ekskavasi ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan serupa pada tahun 2015. Saat itu, warga setempat menemukan candi. Kemudian pada tahun ini ekskavasi berlanjut dengan melibatkan peneliti asing dari Lembaga Pusat Penelitian Prancis Wilayah Asia Timur. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.