Penduduk Miskin di Jateng Turun 124 Ribu

Total penduduk miskin hingga Maret 2019 tercatat 10,80% atau menurun dibandingkan tahun sebelumnya 11,19%.

SEMARANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat pada bulan Maret 2019 jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah mencapai 3,74 juta orang. Angka tersebut berkurang 124,2 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2018 yang sebanyak 3,87 juta orang.

Tim pendamping KPM PKH Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal tengah memasang stiker ‘Keluarga Miskin’ di dinding depan rumah para penerima bantuan. Foto : metrojateng.com/ adithya

Jika dilihat dari persentase jumlah penduduk, total penduduk miskin hingga Maret 2019 tercatat 10,80% atau menurun dibandingkan tahun sebelumnya 11,19%. Adapun persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 9.67%, turun menjadi 9,20% pada Maret 2019. Persentase penduduk miskin di daerah perdesaan juga turun dari 12,80% pada September 2018 menjadi 12,48% pada Maret 2019.

“Selama periode September 2018 Maret 2019, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan juga berkurang sebanyak 75,6 ribu orang (dari 1,71 juta orang pada September 2018 menjadi 1,63 juta orang pada Maret 2019). Sementara di daerah perdesaan juga mengalami penurunan sebanyak 48,6 ribu orang (dari 2,16 juta orang pada September 2018 menjadi 2.11 juta orang pada Maret 2019),” ungkap Kepala BPS Provinsi Jateng, Sentot Bangun Widoyono, Selasa (16/7/19).

Dikatakan, komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan memberikan peran jauh Iebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

“Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2019 tercatat sebesar 73,66%. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi September 2018 yaitu sebesar 73,48%,” katanya.

Ditambahkan, jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan antara Iain beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, dan gula pasir.

Sementara itu, untuk komoditi bukan makanan yang besar pengaruhnya antara Iain perumahan, bensin, Iistrik, pendidikan, dan pedengkapan mandi.

“Pada periode September 2018 Maret 2019, baik Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) maupun Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) cenderung mengalami penurunan,” tandasnya. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.