Pendidikan Dasar belum Sepenuhnya Dinikmati Semua Anak, Ini Penyebabnya

Paling mendasar karena faktor ketidakmampuan ekonomi keluarga.

SEMARANG – Pendidikan dasar belum sepenuhnya dinikmati masyarakat di Kota Semarang. Hal itu menjadi persoalan yang memperihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dan tanggungjawab semua pihak untuk menyelesaikannya.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Wiwin Subiyono saat dialog pendidikan dasar untuk semua di Hotel Noormans, Jalan Teuku Umar, Semarang, Senin (20/5/2019).

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Wiwin Subiyono mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan belum semua anak dapat menikmati pendidikan dasar. Paling mendasar di antaranya karena faktor ketidakmampuan ekonomi keluarga.

‘’Pendidikan sekarang mahal sedangkan pendapatan orang tua kurang. Di sisi lain perusahaan juga mau untuk memperkerjakan orang meskipun hanya tamatan SD,’’ katanya saat dialog pendidikan dasar untuk semua di Hotel Noormans, Semarang, Senin (20/5/2019).

Faktor yang kedua, lanjutnya, karena tidak naik kelas sehingga anak malu untuk melanjutkan sekolahnya kemudian memilih keluar. Ketiga, faktor karena menjadi korban bully yang menyebabkan anak juga akhirnya tidak mau berangkat ke sekolah.

‘’Padahal melihat perkembangan, seharusnya masyarakat sekarang tidak hanya tamat pendidikan dasar (SD dan SMP, red), tapi harus minimal tamat tingkat SMA agar mampu bersaing dalam dunia kerja,’’ ujar Wiwin Subiyono.

Wiwin menyebut persoalan ini menjadi hal yang ironi. Karena satu sisi Pemerintah Kota Semarang menggratiskan pendidikan dasar bahkan memberikan beasiswa bagi warga miskin. Namun sisi lain, juga masih banyak warga yang belum dapat menikmati pendidikan dasar.

‘’Kalau gratis harusnya semua anak sudah sekolah. Maka agar lebih bersemangat (anak untuk bersekolah, red) mungkin disediakan sepatu, seragam, buku dll. Sehingga meskipun tidak 100 persen, paling tidak 97 persen anak di Semarang bisa menikmati pendidikan dasar,’’ tegasnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang Heri Waluyo mengatakan, pihaknya sudah mencari anak-anak yang belum mau sekolah, dan mendorongnya untuk bersekolah. Bahkan menyediakan beasiswa bagi siswa miskin dan berprestasi.

Harapannya, setidaknya jika tidak mau bersekolah di sekolah formal, mau ikut pendidikan kesetaraan. Dinas Pendidikan juga menyediakan Rp 2 miliar untuk pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan untuk menunjang kelancaran belajar mengajar.

‘’Tapi kadang yang tidak sekolah itu bukan warga Semarang. Karena untuk warga Semarang, mereka pasti gratis untuk mengikuti pendidikan dasar,’’ ungkapnya.

Sementara itu, pemerhati pendidikan dan dosen sejumlah perguruan tinggi di Semarang, Tukiman Tarunosayogo mengatakan, problem di Semarang adalah anak yang tidak mau sekolah dan kebijakan pemerintah. Dia menilai sekolah seharusnya membahagikan sehingga anak mau dan betah di sekolah. ‘’(Pendidikan) menyenangkan jadi kunci utama menangani anak putus sekolah,’’ ungkapnya.

Sedangkan kebijakan pemerintah seharusnya juga menyenangkan semua pihak. Baik sekolah, orang tua siswa, masyarakat, pemerintah sendiri dan juga dewan serta lainnya. Diakui hal itu sulit, tapi justru menjadi tantangan untuk mewujudkan pendidikan yang hebat. (duh)

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.