Penambangan Liar Bikin Sawah Warga Desa Bawang Terancam Tandus

?

BATANG – Puluhan hektar lahan persawahan milik warga Desa Deles Kecamatan Bawang terancam tidak teraliri lantaran saluran irigasi rusak dan mengering. Rusaknya saluran irigasi tersebut diduga dengan adanya para penambang liar galian C di sepanjang sungai.
Saluran sungai Kaliputih yang selama ini menghidupi dan mengairi areal lahan pertanian warga, kini tak lagi bisa mengalir ke irigasi sebab dirusak oleh para pelaku penambang batu. Terlebih menghadapi musim kemarau seperti ini, warga kesulitan mendapatkan air.
Ketua RT 13 RW 3 Desa Deles Kecamatan Bawang, Amiri (56) mengatakan saluran irigasi rusak sudah cukup lama. Semenjak adanya aktivitas penambangan galian C yang mengambil bebatuan sungai tersebut, saluran irigasi menjadi mengering.
“Kondisi ini sudah berjalan lama, kami khawatir lahan pertanian hanya sebatas mengandalkan saat hujan saja jika tidak segera dibenahi. Tanah pertanian menjadi tandus dan susah di cangkul,” ujarnya, Rabu (19/7).
Dia mengungkapkan, kekhawatiran warga tidak hanya dirasakan pada areal pertanian yang tidak teraliri air saja. Tapi, sepanjang saluran air yang menuju ke permukiman warga juga ikut mengering.
“Jika sewaktu-waktu terjadi musibah kebakaran, warga akan sulit mendapatkan air. Sebab, selama ini jika terjadi musibah seperti itu warga dengan mudah menggunakan air yang mengalir ke permukiman,” beber Amiri.
Senada dikatakan Solikhin (36) warga RT 14 RW 3 Desa Deles ini. Menurutnya, saluran irigasi yang seharusnya mengalir ke areal persawahan dan permukiman warga ini menjadi kering. Lantaran aliran sungai utama tidak mengalir ke saluran irigasi persawahan.
“Tidak bisa mengalirnya sungai ke saluran irigasi, sebab bebatuan yang ada ditepian bibir sungai habis di pangkas oleh para penambang batu. Sehingga, bibir sungai menjadi rusak dan ambrol menjadikan air tidak bisa mengalir ke saluran irigasi,” terangnya.
Disampaikan, dampak lain yang terjadi jika tidak ada saluran air menuju ke areal persawahan dan permukiman warga. Maka dikhawatirkan warga akan semakin sulit mengolah lahan pertaniannya, serta jika terjadi bencana warga desa yang terkena imbasnya.
“Kendati untuk kebutuhan sarana hidup sehari-hari, warga masih bisa mengandalkan sumber mata air dari lereng gunung dengan cara memasang pipa paralon yang jaraknya puluhan kilo meter jauhnya,” ungkap dia.
Tokoh masyarakat Desa Deles, Sugi (67) mengatakan kerusakan saluran irigasi lantaran adanya aktivitas penambangan liar oleh sejumlah orang tersebut sudah disampaikannya ke pihak dinas terkait. “Sudah kami sampaikan ke dinas terkait, baik dinas pengairan, pertanian dan ESDM kabupaten. Kendati hingga saat ini belum ada tindak lanjut,” tandasnya. (MJ-01)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

82 + = 87

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.