Pemkab Magelang Siapkan “Sister Village” untuk Warga Lereng Merapi

MAGELANG – Pemerintah Kabupaten Magelang sudah menyiapkan sister village atau desa bersaudara untuk menampung warga terdampak erupsi Gunung Merapi. Sister village sendiri merupakan pola mitigasi bencana erupsi gunung Merapi.

Pjs Bupati Magelang Tavip Supriyanto saat meninjau Pos pengamatan gunung Merapi Ngepos, Srumbung Kabupaten Magelang, Selasa (22/5). Foto: ch kurniawati

Pjs Bupati Magelang, Tavip Supriyanto mengatakan, sebelumnya warga terdampak sudah diberi bekal pemahaman tentang sister village. Sehingga mereka akan paham akan ditempatkan dimana bila suatu saat harus dievakuasi sebagai akibat erupsi gunung api teraktif didunia itu.

“Kita selalu melakukan koordinasi pada semua jajaran baik itu BPBD, dinas sosial, pendidikan, kesehatan dan jajaran lain bila terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, sehingga proses penyiapan bila terjadi hal yang tidak kita inginkan terjadi” kata Tavip di sela-sela meninjau Pos Pengamatan Gunung Merapi Ngepos, Srumbung Kabupaten Magelang, Selasa (22/5).

Sebelumnya, Tavip yang didampingi Kepala BPBD Edi Susanto meninjau Kecamatan Srumbung untuk menanyakan kesiapan aparat kecamatan terkait peningkatan status Merapi dari normal menjadi awas.

Sister village itu sendiri sudah disiapkan di 16 desa di sekitar Gunung Merapi, seperti di Srumbung, Dukun, Sawangan ataupun Salam. Warga desa yang tempatnya dijadikan sister village juga sudah dilatih setiap saat oleh petugas baik dari BPBD di bantu oleh relawan-relawan yang banyak tersebar.

Sejauh ini, belum ada warga yang mengungsi. Mereka masih beraktivitas normal seperti biasanya pasca kenaikan status Merapi. “Namun semalam memang ada warga Srumbung yang akan mengungsi karena mendengar berita-berita yang simpang siur,” katanya.

Kepala pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Edi Susanto menambahkan, di sekitar gunung Merapi terdapat sebanyak 46.800 lebih warga yang terdampak erupsi. Mereka saat ini tinggal 19 desa  di kawasan rawan bencana (KRB) III.

Edi menerangkan, untuk sister village, nantinya warga yang rumahnya ketempatan pengungsi juga diberi bantuan dari pemkab setempat, terutama soal logistik. “Jadi yang disiapkan adalah kebutuhan dasar terlebih dahulu,” terangnya.

Terkait standar apa yang harus dibawa oleh pengungsi bila mereka untk sementara harus meninggalkan rumah, Edi menekankan bahwa warga sudah diberi pemahaman tentang apa yang harus dibawa. Yang pertama adalah surat-surat berharga seperti akta tanah, ijazah atau apa yang menurut warga itu berharga.

Selain sister village, BPBD juga sudah menyiapkan tempat-tempat penampungan lain seperti di TPA Tanjung. “Tempat ini untuk  menampung limpahan warga terdampak yang tidak ke sister village,” ungkapnya. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

2 + = 5

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.