Pello Benson Belum Mengesankan

Esaiah Pello Benson kembali ‘pulang’ ke Semarang setelah sempat membela tim Ibukota Jateng periode 2004-2005.

SEMARANG – Pelatih PSIS Jafri Sastra masih butuh waktu sebelum memutuskan nasib Esaiah Pello Benson. Standar tinggi diberlakukan untuk gelandang naturalisasi.

Esaiah Pello Benson (tiga dari kiri) kembali mencoba peruntungan di PSIS. Foto: metrojateng.com

Esaiah Pello Benson kembali ‘pulang’ ke Semarang setelah sempat membela tim Ibukota Jateng periode 2004-2005. Kali ini dia datang dengan bekal status WNI dan sudah menanggalkan kewarganegaraan Liberia.

Kecuali rambutnya yang gimbal, sekilas tidak ada yang berbeda dengan pemain kelahiran Liberia, 27 Maret 1984 itu. “Benson, oke dia pemain naturalisasi, tapi bagi saya tetap pemain asing. Artinya kemampuan dia harus di atas pemain yang kami punya saat ini, seperti (Septian) David atau yang lain,” kata Jafri, Kamis (21/2/2019).

Pello Benson bergabung dengan PSIS di pertengahan musim Liga Indonesia X 2003-2004 menggantikan pemain Chile Darwin Perez. Dia langsung menjadi pilar lini tengah Mahesa Jenar di era pelatih Heri Kiswanto.

Perannya tak tergantikan meski nahkoda tim berpindah ke tangan Bambang Nurdiansyah. Benson menjadi bagian era emas PSIS bersama Emanuel de Porras dan mengantar timnya meraih juara ketiga Liga Indonesia 2005.

Tapi, kini usianya sudah menjelang 34 tahun. Meski fisiknya masih terlihat oke, namun kondisi kebugarannya belum cukup menjanjikan. Apalagi dia sudah setahun terakhir tidak bermain di level kompetisi.

“Saya terakhir main di Filipina tahun 2017. Sekarang saya kembali lagi ke Semarang. Ini sudah seperti rumah saya, karena PSIS klub pertama saya di Indonesia, tentu senang kalau bisa main di sini. Tapi, saya serahkan sepenuhnya kepada coach,” beber Benson.

Selain Benson, Jafri Sastra juga memantau gelandang asal Chile, Diego Garcia. “Kami lihat lagi sampai dua hari ke depan,” ujarnya. (twy)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.