Pelemahan Rupiah Goyang Sektor Properti

Nilai Rupiah yang tidak stabil ini akan berdampak pada BI Rate yang beranjak naik, sehingga berimbas ke KPR.

SEMARANG- Gejolak pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS berdampak pada sektor properti. Jika kondisi tersebut berlangsung lama akan menurunkan daya beli masyarakat.

Sebanyak 12 pengembang properti terlibat dalam acara Property Expo Semarang 6 di Mall Paragon Semarang, Rabu (15/8/2018). Foto: metrojateng.com/Anggun Puspita

Wakil Ketua Bidang Promosi, Humas dan Publikasi DPD REI Jawa Tengah, Dibya K Hidayat mengatakan, menurunnya daya beli masyarakat juga akan berimbas pada para pengembang properti.

“Kami mewaspadai kondisi ini akan berpengaruh besar pada sektor properti, seperti penjualan perumahan terutama pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR),” ungkapnya saat pembukaan Property Expo Semarang 6 di Mall Paragon Semarang, Rabu (15/8/2018).

Saat ini kurs dolar AS terhadap rupiah terus menguat. Hingga kini, rupiah berada di kisaran Rp 14.615 per dolar AS. Jumlah tersebut merupakan level tertinggi sejak tiga tahun terakhir.

“Nilai Rupiah yang tidak stabil ini akan berdampak pada BI Rate yang beranjak naik, sehingga berimbas ke KPR. Jadi ini tidak mendukung penjualan perumahan,” tuturnya.

Diketahui, kenaikan dolar AS juga berdampak kenaikan harga bahan bangunan terutama bahan yang impor seperti besi.

Dibya menuturkan, saat ini penjualan properti juga mulai lesu karena suhu politik di Indonesia mulai memanas menjelang pemilihan legislatif serta Pilpres 2019. Namun, tidak hanya properti saja yang kena dampaknya, di semua sektor bisnis dan usaha juga terpengaruh.

“Kondisi saat ini hampir sama dengan tahun 2014, yang pada waktu itu juga tahun politik. Pada waktu itu penjualan properti juga mengalami kelesuan,” katanya.

Kendati demikian, para pengembang berharap agar kondisi politik tahun ini tetap kondusif sehingga tidak berdampak pada sektor usaha, termasuk properti. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.