Pedagang Hewan Kurban Abaikan Imbauan Dinas Pertanian

Dari sidak di beberapa lapak pedagang ditemukan kambing-kambing yang tidak layak sebagai hewan kurban

SEMARANG – Sejumlah pedagang tidak mempedulikan Pemerintah Kota Semarang yang meminta tidak menjual hewan yang tidak layak dijadikan hewan kurban. Justru sebaliknya mereka mengklaim memiliki dasar hukum yang kuat.

Ilustrasi pemeriksaan hewan kurban. Foto: metrojateng.com/dok

Dinas Pertanian Kota Semarang sebelumnya meminta pedagang tidak menjual kambing yang belum berumur dua tahun atau giginya belum poel. Selain itu kambing yang tanduknya patah atau rusak.

Hal itu karena dari sidak di beberapa lapak pedagang ditemukan kambing-kambing yang tidak layak sebagai hewan kurban. Karena tidak memenuhi syarat-syarat tersebut di atas.

Salah seorang pedagang, Muhammad Zaenuri mengatakan, sudah menjual hewan kurban selama bertahun-tahun. Sudah paham dengan ketentuan-ketentuan dibolehkan dan tidaknya hewan untuk dijadikan sebagai hewan kurban.

‘’Kalau saya, ada dua pendapat, yaitu menurut hadist dan ilmu fiqh. Kalau menurut hadist yang penting cukup umur, tidak ada penjelasan mengenai poel. Tapi kalau dalam ilmu fiqh, itu memang diterangkan untuk hewan kurban harus berumur dua tahun atau giginya sudah poel. Begitu saja,’’ katanya, Minggu (19/8/2018).

Karena itu, pedagang yang menjajakan hewan kurban di Jalan Jolotundo ini menuturkan, dirinya akan mengembalikan kepada kemantapan hati para pembeli atau konsumen. Ia hanya akan menjelaskan menurut hadist tidak disebutkan harus poel, tapi cukup umur.

infografik: Habib (magang)

‘’Kalau cari yang poel, ya kita kasih yang poel. Kalau konsumen tidak minta (harus poel) ya dikasih saja (yang belum poel). Tapi kita pasti berusaha berikan penjelasan dulu,’’ katanya, di mana di tempatnya dari 50an kambing ada tujuh yang belum poel.

Soal tanduk hewan yang patah atau cacat, pedagang asal Kabupaten Semarang ini juga menyatakan tetap bisa dijadikan hewan kurban. Selama patahnya tidak sampai ke bagian pangkal atau kelihatan dagingnya.

‘’Kalau di aturan cacat itu ada empat, termasuk salah satunya putus dari kulit sampai dagingnya keluar. Kalau masih putus di batang tanduknya saja itu masih bisa dijadikan kurban, tapi kalau sudah sampai daging itu baru tidak boleh,’’ tandasnya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.