Pastor dan Pendeta Ajak Lintas Agama ‘Nandur Kebecikan’

Perayaan Pekan Doa Sedunia

Pekan doa kali ini menggelar prosesi menanam benih sawo kecik dan ikan sebagai simbol untuk “nandur  kebecikan” atau menanam kebaikan.

Foto: Para pendeta, pastor dan umat lintas iman saat menebar benih ikan di sungai depan Katedral.

SEMARANG – Perayaan Pekan Doa Sedunia telah selesai dilakukan oleh umat Nasrani di seluruh penjuru Jawa Tengah pada 18-25 Januari 2019. Sesuai tema pekan doa di tahun ini “Semata-mata keadilan, itulah yang harus kau kejar”, para pastor dan pendeta-pendeta kristen prostestan pun menggantungkan harapan setinggi-tingginya untuk selalu berbuat adil.

Pendeta Wipro Prapdito misalnya. Ia  mengungkapkan jika tema pekan doa tepat untuk refleksi bersama atas fenomena karut marut peradilan.

Ia mengatakan keberadaan gereja di semua wilayah harus bisa menjadi agen perubahan. Ia ingin gereja menjadi ujung tombak keadilan.

“Pendeta dan romo menjadi  penyemangat kehidupan umat untuk mengupayakan terwujudnya kehidupan bersama yang berkeadilan baik di tingkat lokal maupun global,” kata Wipro, Minggu (27/1/2019).

Sedangkan Romo Eduardus Didik Chahyono, Ketua Komisi Hubungan Antar Agama Kevikepan Semarang menguraikan pekan doa sebelumnya diselingi dengan ibadah ekumene.

Romo Didik menjelaskan ibadah digelar di berbagai gereja. Mulai Santo Maria Fatima Banyumanik, GKI Karangsaru, GKI Gereformeerd Semarang dan Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosario Katedral Semarang.

“Pekan doa juga ada di Kudus, Kendal, Salatiga, Surakarta, Wedi Klaten, Magelang, Yogyakarta,” sergahnya.

Romo Didik juga mengajak para pendeta ikut menabur benih ikan di sungai depan Katedral Semarang. Tak lupa ada pula warga lintas agama yang dimeriahkan pentas seni.

Romo Herman Yosef Singgih Sutoro, bilang pada penutupan pekan doa kali ini, pihaknya diberi benih tanaman sawo kecik dan ikan sebagai simbol untuk “nandur  kebecikan” atau menanam kebaikan.

Di samping itu, Pendeta Rahmat Paska Rajagukguk mengungkapkan perjumpaan umat Nasrani dan umat lintas iman harus mampu menepis stigma lama yang membuat keterpisahan.

“Dengan kegiatan ini, kita dapat mewujudkan persaudaraan yang dapat menghadirkan semangat kekeluargaan untuk membangun kehidupan bersama,” tandasnya. (far)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.