Pasca Beredar Video Penganiayaan Napi, Mencuat 20 Napi Nusakambangan Lumpuh

Para napi di lapas narkotika Nusakambangan yang mengalami kelumpuhan tersebut diduga akibat tidak pernah dikeluarkan dan kerap diperlakukan tidak manusiawi.

SEMARANG – Sedikitnya ada dua puluh narapidana (napi) kasus narkotika di Lapas Narkotika Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, diduga mengalami kelumpuhan. Ada dugaan para narapidana tersebut kerap mendapat perlakuan tak manusiawi selama menjalani masa pidana di “pulau hantu” tersebut. Dugaan tersebut menguat pasca beredar video penganiayaan narapidana di Dermaga Wijayapura, Cilacap.

Ilustrasi. Personel kepolisian bersenjata lengkap menjaga bus Mako Brimob di kawasan Dermaga Wijayapura, Cilacap, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Foto: metrojateng.com

“Informasi yang saya terima baru saja sebanyak 20 napi di lapas narkotika Nusakambangan lumpuh akibat tidak pernah dikeluarkan dan diperlakukan tidak manusiawi,” ujar Pengurus Forum Pengamat Pemasyarakatan, T Sayed Azhar, Sabtu (4/5/2019).

Untuk mengusut kasus tersebut, ia mengklaim pejabat Ditjen PAS Kemenkumham RI akan meninjau Nusakambangan. Pihak Ditjen PAS bersama tim inspektorat jenderal Kemenkumham akan turun ke Nusakambangan untuk melakukan pemeriksaan.

Para pejabat lapas, Dirkamtib dan pejabat Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah saat ini sedang melakukan steril lokasi Lapas Narkotika.

Namun, ia mengaku 20 narapidana yang lumpuh itu informasinya akan dipindah dan disebarkan di beberapa lapas lainnya untuk menghindari sidak dari tim Ditjen PAS.

“Tapi sampai sekarang belum ada lapas yang mau menerima 20 narapidana yang lumpuh tersebut. Disinyalir kuat bahwa pemindahan para napi ini adalah upaya untuk menghilangkan bukti adanya perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan di Lapas Narkotika Nusakambangan,” cetusnya.

Sedangkan, Kepala Kemenkumham Jateng, Sutrisman saat dikonfirmasi terpisah, mengatakan telah mengevaluasi sistem pengawasan dan pengamanan lapas. Pihaknya menginstruksikan kepada semua kepala rutan maupun lapas untuk membenahi doktrin pembinaan di lapas.

Pihaknya juga menekankan para staf di lapas maupun rutan harus memiliki standar pembinaan. “Kami terus lakukan investigasi kenapa ini terjadi,” tegasnya.

Diakuinya bahwa memang ada penganiayaan terhadap narapidana di Dermaga Wijayapura. Kejadiannya akhir 28 Maret 2019 di Wijayapura. Narapidana yang dianiaya ada 26 orang. Mereka narapidana asal Lapas Bali yang semula hendak dikirim ke Nusakambangan.

“Kami sudah turunkan tim beberapa hari lalu baik dari Kanwil maupun Direktorat Kamtib di Jakarta, dan hari ini dari inspektorat jenderal juga menurunkan kamtibnya untuk melakukan investigasi,” jelasnya.

Ia mengatakan penganiayaan tersebut telah melanggar SOP. Para narapidana yang mengalami penganiayaan kondisinya mulai membaik. Tetapi masih dipantau oleh tim medis yang dikerahkan oleh pihaknya. “Harapan kami warga binaan itu sehat, dan baik,” bebernya.

Kepala Lapas Narkotika, katanya, kini telah dinonaktifkan. Yang bersangkutan sudah ditarik ke kantor wilayah Kemenkumham Jateng untuk diperiksa lebih lanjut. Untuk sanksinya masih akan didalami oleh penyidik.

Sedangkan ada pula 26 pegawai lapas setempat yang diperiksa intensif. Sanksi terberat berupa pemberhentian dengan tidak hormat. (far)

 

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.