Pasar Mranggen Kembali Buka, Nasib Pedagang Ayam Terkatung-katung

Pasar Mranggen sendiri menampung 1.283 pedagang. Dari jumlah itu 1.110 merupakan pedagang lama yang berizin.

DEMAK – Sebanyak 20 pedagang ayam dan jasa pemotongan ayam belum mendapatkan kios atau lapak menyusul dibukanya kembali Pasar Mranggen Kabupaten Demak usai direnovasi. Saat ini pedagang nasibnya tak jelas dan masih menempati lapak di pasar sementara atau darurat.

Pedagang ayam di Pasar Mranggen. Foto: metrojateng.com

Dari pantauan, pasar sementara sudah mulai ditinggalkan oleh pedagang. Hanya terlihat pedagang ayam jasa pemotongan ayam, sayur, dan pakaian.

Namun, sebagian besar pedagang sudah berpindah ke Pasar Mranggen yang resmi dibuka Bupati HM Natsir, Rabu (9/10/2019) lalu.

Erwanto (35), salah seorang pedagang ayam mengaku belum pindah lantaran tidak mendapatkan kios di pasar usai direnovasi tersebut. Ada sekitar 20 pedagang ayam dan jasa pemotongan ayam yang telantar.

“Ada 20 pedagang dan pemotongan ayam bingung tidak dapat kios atau lapak di pasar yang baru. Makanya, belum pindah,” katanya, Senin (28/10/2019)

Dirinya dan pedagang ayam lainnya sudah melayangkan surat kepada dinas terkait dan dilakukan audiensi. Namun, hasilnya mereka tidak dapat berjualan di area Pasar Mranggen.

“Surat sudah, audiensi sudah. Tapi hasilnya memang kami tidak dapat lapak di pasar yang baru. Katanya kalau jual ayam hidup tidak boleh bareng dengan daging,” paparnya.

Siti (48), pedagang ayam lainnya juga mengaku sedih karena terancam tidak dapat berjualan lagi. Sebab, pasar sementara rencananya akan ditutup.

“Kami mau kalau harus membayar, yang penting dapat kios. Selama ini kami tidak pernah diajak rembuk. Padahal, di pasar yang belum direnovasi dulu kami jualan, sudah 30 tahun di sana. Ini kok malah tidak ada jatah,” keluh dia.

Selain itu, dia mengeluhkan adanya retribusi harian selama menempati di pasar sementara. “Kalau memang pedagang ayam tidak termasuk dari pendataan, kenapa ada retribusi. Berarti daftar kami ada kan,” imbuhnya.

Sementara, Fajar (34) pemilik jasa pemotongan ayam menambahkan bahwa hingga saat ini tidak ada kepastian kios atau lapak bagi dirinya. “Belum ada. Lalu, saya dan yang lainnya ini mau usaha dimana,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Disperindagkop dan UMKM Kabupaten Demak, Siti Zuarin menyampaikan bahwa pedagang hewan hidup tidak boleh menyatu di pasar rakyat.

“Kalau jual ayam hidup, tidak boleh menyatu dengan pasar rakyat. Itu harus ya di pasar hewan, kecuali ayam yang sudah dipotong,” ujarnya.

Pasar Mranggen sendiri menampung 1.283 pedagang. Dari jumlah itu 1.110 merupakan pedagang lama yang berizin. “Ada dua lantai, dan untuk pembagian lokasi sesuai zona,” tandasnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.