Pasar Kebon Watu Gede, Wisata Alternatif di Lereng Sumbing

Setiap transaksi pembayaran menggunakan mata uang kuno benggol atau setara dua ribu rupiah setiap satu kepingnya.

MAGELANG – Pasar Kebon Watu Gede di Dusun Jetak Desa Sidorejo Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, semakin dikenal masyarakat. Konsep nuansa kuno dengan suguhan pagelaran seni tradisional dan modern, membuat pasar ini makin diminati.

Suasana wisata Pasar Kebon Watu Gede di lereng Gunung Sumbing di Dusun Jetak Desa Sidorejo Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, Sabtu (22/12/2018). Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Bersamaan dengan musim libur sekolah, Natal dan Tahun Baru 2019, pasar yang terletak di lereng Gunung Sumbing ini juga buka pada malam hari pada Sabtu dan Minggu (22-23/12/2018). Ribuan wisatawan dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke pasar digital yang merupakan kreasi dari pemuda setempat.

Atraksi seni Obar Abir, menjadi pembuka wisata pasar wengi Kebon Watu Gede, Sabtu (22/12) malam. Dari kilatan api itu kemudian disusul pagelaran tari kolosal Manohara dari Sanggar Langen Budoyo Dusun Pucung Pogalan Kecamatan Pakis lereng Gunung Merbabu. Ribuan penonton yang memadati pasar yang dibuka hanya 40 hari sekali yakni Minggu Pahing ini, semakin meriah.

Sendratari Manohara sendiri berkisah tentang cinta tanah disengketa yang berujung kedamaian, semangat gotong royong dan kemakmuran seperti terpahat di salah satu relief Candi Borobudur.

Usai gelaran tari tradisional, dilanjutkan dengan penampilan sejumlah kelompok band lokal. Hiburan yang mereka tampilkan membuat wisatawan yanag datang tidak bergeming. Apalagi kuliner yang di jual merupakan jajanan kuno yang nyaris punah, seperti gebleg, lupis, rengginan, jenang, putu, klepon dan lain sebagainya.

Kepala Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang, Iwan Sutiarso mengatakan, kegiatan yang digelar dua hari ini diharapkan menjadi titik awal bagi pengembangan Pasar Watu Gede.

“Saya lihat jumlah wisatawan yang datang mencapai ribuan. Tentunya ini mampu menimbulkan banyak manfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat,” kata Iwan.

Ia menyebutkan, Pasar Watu Gede ini memiliki keunikan, seperti lokasi yang berada di bawah rimbun pohon bambu tepi sawah. Keunikan lain, setiap transaksi pembayaran menggunakan mata uang kuno benggol atau setara dua ribu rupiah setiap satu kepingnya.

Kegiatan yang diberi tema “Energi Sumbing” ini diharapkan mampu menjadikan  Pasar Watu Gede sebagai  magnet awal pengembangan wisata lereng Gunung Sumbing.

Keberadaan wisata inofafif ini, menurut Iwan berkat kreativitas warga memanfaatkan media sosial. Meski lokasinya jauh dari permukiman, wisata ini terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat luas.

Konsepnya digital namun tetap mempertahankan kearifan lokal kuno. “Ini kolaborasi antara masyarakat desa dengan generasi milenial yang peduli dengan pariwisata Kabupaten Magelang,” ungkapnya.

Konsep kearifan lokal dan kesederhanaan itu menjadi daya tarik wisatawan khususnya musim libur sekolah dan akhir pekan seperti sekarang ini.

Wisatawan juga bisa menikmati suasana tenang alam pedusunan nan sejuk. Moment lain yang juga menarik adalah menerbangkan ratusan lampion ke langit Gunung Sumbing sebagai simbol harapan dan doa baik di pengujung tahun 2018. (MJ-24).

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.