Pandemi Jumlah Investor di Wilayah Jawa Tengah Tetap Tumbuh

 

 

SEMARANG, METROJATENG.COM –  Jumlah investor di wilayah Jawa Tengah (Jateng)  5 tahun terakhir, tetap tumbuh , meski sudah 1,5 tahun pandemi. Sejak tahun 2016-2020, jumlahnya tumbuh mencapai 299 persen, dan  pada semester I,  2021, meningkat  55,70 persen.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI)/ Indonesia Stock Exchange (IDX) Jateng 1, Fanny Rifqi El Fuad

tahun  2016 tercatat baru  ada 47.594 investor. Jumlah ini tahun 2020 meningkat mencapai 176.694 investor. Sedang pada semester 1 tahun 2021, jumlah investor meningkat  menjadi 275.117 investor.

“Pertumbuhan tertinggi di Kota Semarang,Salatiga, Kendal, Demak dan Grobogan. Demikian juga di wilayah karisidenan Pekalongan dan karisidenan Pati,” tambah Fanny.

Investor saat ini, lanjut Fanny lebih banyak didominasi anak muda atau kaum milenial. Jumlah Investor dari kalangan anak muda di Jateng hingga Juli 2021 mencapai 116.641 investor dengan usia 18-25 tahun,” jelas  Fanny saat memberikan paparan dalam kegiatan Workshop Wartawan Digital KP BEI Jateng 1 secara daring di Semarang, Kamis (7/10).

Peningkatan investor dari kalangan generasi muda tersebut, tidak lepas dari berbagai kegiatan dan kerjasama dalam meningkatkan literasi pasar modal. Salah satunya, dengan menggandeng perguruan tinggi.

“Kita menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, untuk membuat program galeri investasi BEI dan  mengajak perusahaan sekuritas di wilayah KP BEI Jateng 1, untuk melakukan edukasi terkait literasi pasar modal,” tambah Fanny.

Sementara itu dalam  lima tahun terakhir, literasi masyarakat akan pasar modal juga terus meningkat. Hal ini terlihat dari peningkatan kepemilikan saham dan trading value, dari dalam negeri yang juga terus bertambah.

Dijelaskan tahun 2015 lalu, kepemilikan saham masih didominasi modal asing yang mencapai 63,79 persen, semetara dalam negeri hanya 36,21 persen. Angka tersebut berubah pada 2020, menjadi 49, 21 persen asing dan 50,79 persen local.

Demikian juga dengan trading value, yang meningkat menjadi  68,54 persen dari dalam negeri pada 2020, dibanding pada 2015 di angka 56,79 persen.(tya)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.