Pakai Teknologi Landfill Gas, Hendi Optimis Masalah Sampah Tuntas

Kota Semarang menghasilkan sampah sebanyak 1.000 sampai 1.200 ton setiap harinya.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi Menyalami Peserta acara KICK OFF Meeting Penyusunan OBC di lantai 8 Gedung Balai Kota, Selasa (22/1/2019).

SEMARANG – Pemkot Semarang menargetkan tahun ini bisa merampungkan project pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dengan teknologi Landfill Gas. Project kerjasama dengan Kerajaan Denmark ini memanfaatkan gas methan dari hasil timbunan limbah sampah di TPA Jatibarang untuk diolah menjadi listrik.

Selain menghasilkan listrik, dengan teknologi landfill gas dinilai mampu menghilangkan bau dari limbah sampah di TPA Jatibarang. Sehingga dapat mengatasi persoalan polusi udara yang kerap mengganggu lingkungan sekitar.

Sementara untuk mengurangi volume sampah agar tidak semakin menumpuk di TPA Jatibarang, Pemkot Semarang juga akan memulai project PLTSa dengan teknologi insinerator atau pembakaran.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menandai dimulainya project PLTSa dengan kedua teknologi tersebut, dengan menggelar kegiatan Kick Off Meeting Penyusunan Outline Bussiness Case (OBC) Project Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Acara tersebut berlangsung di Ruang Komisi lantai 8 Gedung Balai Kota Semarang, Selasa (22/1/2019). Melalui project ini, Wali Kota yang akrab disapa Hendi, berharap persoalan sampah di Kota Semarang dapat tertangani dengan tuntas.

Sebagai salah satu Kota Metropolitan di Indonesia, persoalan sampah di Kota Semarang merupakan masalah yang serius. Tercatat, Kota Semarang menghasilkan sampah sebanyak 1.000 sampai 1.200-ton setiap harinya.

Dalam pengelolaannya di TPA Jatibarang, Hendi mengatakan, Kota Semarang memperoleh bantuan sebesar Rp 49 miliar dari Denmark yang dimanfaatkan untuk mengolah membran tertutup seluas 6 hektare dari gas methan menjadi energi listrik.

Maka, Hendi pun optimis bahwa project PLTSa ini akan mampu menuntaskan persoalan sampah di Kota Semarang. Hendi mengungkapkan bahwa di samping menyelesaikan masalah sampah, project PSEL dapat mensuplai pasokan energi listrik ke PLN.

‘’Saya optimis permasalahan sampah di Kota Semarang akan tuntas, dengan mengolah sampah yang tadinya sesuatu yang tidak berguna kemudian bisa dimanfaatkan hingga menjadi energi listrik untuk PLN,’’ ujarnya.

Hendi memaparkan tahapan pembangunan project PSEL yaitu Penyusunan Outline Business Case (OBC), Financial Business Case (FBC) dan tahap konstruksi. Dia mengungkapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu penyusunan OBC dan menargetkan untuk proses Ground breaking bisa dilaksanakan pada bulan November 2019.

‘’Terima kasih kepada PLN, Bappenas, KPIP, KIAT, kerja sama Indonesia dengan Australia yang sudah membantu memasilitasi penyusunan OBC, Kementerian sudah dibantu, dan kami ingin mudah-mudahan November tahun ini sudah mulai ground breaking,’’ tandasnya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.