Pakai Pola KTP, Jalingkut Kudus Hemat Rp 0,5 Triliun

dok. Pemkab Kudus

KUDUS ľ Pemerintah Kabupaten Kudus berhasil menghemat biaya hingga Rp 0,5 triliun dalam pembangunan Jalan Lingkar Utara (Jalingkut), yang dipastikan akan rampung Agustus ini. Hal itu dikarenakan pembangunan Jalingkut memakai pola konsolidasi tanah perkotaan (KTP) dalam proses pembebasan lahan.

Dalam pola tersebut ada unsur kerelaan warga melepaskan sebagian tanah miliknya untuk pembangunan jalan tanpa meminta ganti rugi uang. Pemkab memberikan kompensasi non-uang. Melainkan berupa fasilitas pengeringan tanah, pembuatan sertifikat secara, dan izin mendirikan bangunan (IMB) secara gratis.

Alhasil, pemerintah bisa menghemat uang cukup besar. Masyarakat juga diuntungkan, karena harga jual tanah yang tersisa bisa naik lebih tinggi, lebih besar jumlahnya dibanding dengan angka ganti rugi tanah.

ôDengan pola ini, pembangunan Jalingkut ámampu menghemat biaya sebesar Rp 0,5 triliun,ö kata Bupati saat melihat penyelesaian di lokasi proyek Jalingkut, Senin (31/7/2017).

Menurutnya, dengan mendorong dan meningkatkan partisipasi masyarakat, bukan hanya mengindari konflik tetapi juga menghemat anggaran negara. Iapun menegaskan jika pembangunan insfrastruktur bisa ditempuh dengan biaya yang tidak melulu mahal.

Menurutnya, pola ini bisa menjadi role model dalam pembangunan secara nasional. Tidak ada salahnya pemerintahan di Indonesia yang sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur sekarang ini, mencontoh pola yang diterapkan dalam pembangunan jalan di Kudus tersebut.

Jalan lingkar utara ini menggunakan lahan seluas 12,6 Ha. Sebanyak 12,3 Ha lahan yang dibebaskan untuk keperluan pembangunan jalan, menggunakan pola KTP. Sisanya seluas 0,3 Ha dibebaskan dengan kompensasi ganti rugi. Total jumlah pemilik lahan mencapai 450, dengan tiga pemilik diantaranya melepaskan lahan dengan pola ganti rugi. Untuk keperluan itu menelan biaya kurang lebih Rp 5 miliar, yang saat ini berada dalam tahap appraisal.

Menurut Mustofa,

Jalingkut yang melintasi Mijen-Peganjaran Utara sepanjang 4,2 kilometer ini sangat penting untuk memecah kepadatan arus kendaraan dari arah Jepara ke Kudus. “Targetnya pada Agustus tahun ini jalan ini sudah bisa digunakan,” lanjut Musthofa.

Proyek ini juga dipandang dapat memberikan keuntungan berbagai pihak. Terutama dalam menyediakan jalur transportasi yang mendukung perekonomian masyarakat. Untuk itu, kata Mustofa, masyarakat harus turut merawat jalan yang menghubungkan kecamatan Kaliwungu, Gebog, dan Bae ini.

öKarena membangun ekonomi diawali dari sarana prasarana, termasuk jalan, yang baik,ö tegas Bupati yang juga kandidat doktor Undip ini.(MJ-23)

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

36 − 28 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.