Pagar Nusa Siap Jaga NKRI dari Radikalisme dan Terorisme

Ketua Dewan Pendekar Abah Hendro Syufaat bersama Ketua PSNU Pagar Nusa Kota Semarang Lukman Muhajir sedang mengecek kesiapan di acara gladi resik. (foto: Mukhammad Masrukhin/metrosemarang.com)

SEMARANG – Organisasi badan otonom Nahlatul Ulama yang membidangi Pencak Silat, Pagar Nusa, menyatakan siap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari radikalisme maupun terorisme. Bagi pesilat Pagar Nusa, NKRI adalah harga mati, dan Pancasila harus tetap jaya. Sedikitpun tidak boleh ada gerakan radikal dibiarkan hidup sehingga merusak negeri yang telah diperjuangkan kemerdekaannya oleh para pahlawan bangsa ini.
Ketua Pimpinan Cabang Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa Kota Semarang Lukman Muhajir menyatakan hal itu dalam gladi resik Pelantikan, Rapat Kerja Pengurus dan Pelatihan Pencak Silat untuk Pelatih, di Gedung Balai Kota Semarang, Sabtu, (5/8).
Lukman yang menjadi ketua periode 2016-2021 ini mengajak semua pesilat untuk membela tanah air dan menjaga negara dari rongrongan kaum radikal yang anti demokrasi, anti Pancasila dan suka menebar teror kepada pemerintah maupun rakyat.
“Semua pesilat, termasuk pesilat Pagar Nusa, sudah pasti dilatih secara disiplin dan dididik berjiwa kesatria. Menjunjung tingi kehormatan dan pantang melakukan tindakan tercela. Tentu sangat tepat untuk menjaga negeri kita dari kaum radikalis dan teroris yang tidak memiliki semua sifat dan sikap itu,” tandasnya seperti rilis PSNU Kota Semarang ke metrosemarang.com.
Lukman menyatakan, pengaruh radikalisme sudah sangat jelas merusak jiwa masyarakat. Orang-orang yang mengaku beragama dan sok suci, sudah sedemikian kejinya sehingga suka memfitnah dan menuduh tanpa bukti. Lalu menyakiti, menganiaya bahkan membunuh dengan cara sangat sadis tanpa sisa belas kasihan sedikitpun di kalbu mereka.
Contoh yang paling nyata dan terbaru adalah peristiwa jamaah masjid di Bekasi menuduh seorang tukang servis elektronik yang mampir sholat sebagai pencuri amplifier masjid. Lalu si pria malang itu dikejar, dianiaya dan dibakar sampai mati usai ia beribadah.
“Itu bukti nyata radikalisme telah merusak nilai-nilai budaya kita. Orang Indonesia yang katanya religius, begitu keji membakar orang yang dituduh maling. Itu kalau bukan karena pengaruh ajaran radikal tidak akan terjadi,” tuturnya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

+ 51 = 59

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.