Omzet Produsen Zam-zam Palsu Tembus Rp 1,8 miliar

Zam-zam palsu ternyata air minum biasa yang dikemas ulang.

SEMARANG- Dua orang tersangka penjual air zam-zam palsu bermerk Al Lattul Water yang diringkus Satgas Pangan Ditreskrimsus Polda Jateng sudah beroperasi sejak Oktober 2017. Selama sembilan bulan beroperasi, mereka telah mendapatkan omzet kurang lebih Rp 1,8 miiar.

Polisi menunjukkan air zam-zam palsu merek Al Lattul Water saat rilis kasus di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, Banyumanik, Kota Semarang, Rabu, 8 Agustus 2018. Foto: metrojateng.com/Efendi

“Pengiriman yang sudah mereka lakukan sejak Oktober 2017 sebanyak 30 kali. Dalam satu kali pengiriman mencapai 200 dus dengan harga per dus Rp 300 ribu,” ujar Kapolda Jateng, Irjen Condro Kirono di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, Banyumanik, Kota Semarang, Rabu, 8 Agustus 2018.

Condro juga mengatakan, air zam-zam palsu tersebut ternyata merupakan air minum biasa yang dikemas ulang. Kedua tersangka membelinya di tempat pengisian air minum dan mengemasnya ke dalam berbagai ukuran jeriken maupun botol.

BACA JUGA: Polda Jateng Bongkar Produsen Zam-zam Palsu yang Beredar di Jawa Barat

Selain itu, produk air dalam kemasan Al Lattul Water tanpa izin edar dari BPOM RI serta tidak memiliki label SNI. “Hanya ada tulisan merk Al Lattul Water lengkap dengan tulisan arab saja,” kata Condro.

Untuk itu, Condro menghimbau kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dalam membeli air zam zam dalam kemasan seperti ini. Pasalnya tidak semua air zam-zam yang dijual di pasaran termasuk toko perlengkapan haji sekalipun menjual produk asli.

“Memang penjualan air zam-zam di Indonesia itu diperbolehkan, tapi masyarakat harus berhati-hati dan pilih-pilih supaya tidak tertipu dengan produk palsu,” imbuh Condro.

Pihaknya kini telah menarik produk Al Lattul Water dari peredaran. Merk Al Lattul Water sendiri merupakan merk buatan Yusron, 37 tahun, dan Efendi, 54 tahun, yang diringkus di rumah kontrakan sekaligus tempat produksi di jalan Blado Pagilaran nomor 6, RT 3 RW 1, Blado, Batang pada 26 Juli 2018 lalu.

Tersangka dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 120 UU No 3 tahun 2014 tentang perindustrian dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 3 miliar, Pasal 142 UU No 18 tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman 2 tahun penjara atau denda maksimal Rp 4 miliar dan serta Pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) UU RI No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman 5 tahun penjara atau denda maksimal Rp 2 miliar. (fen)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.