Ombudsman Temukan Harga Gula Pasir Merangkak Naik

Mula-mula, harga gula pasir di angka Rp 11 ribu per kilogram, kemudian naik menjadi Rp 11.500 per kilogram. Saat ini merangkak naik menjadi Rp 13 ribu. Ini telah bertahan sejak awal ramadan.

SEMARANG – Memasuki pertengahan Ramadan 1440 Hijriyah, Kantor Ombudsman Jawa Tengah menggelar sidak ke dua pasar tradisional Kota Semarang. Di Pasar Peterongan, tim Ombudsman mendapati harga gula pasir masih bertahan di level tertinggi.

Ombudsman Jawa Tengah saat menggelar sidak ke dua pasar tradisional di Kota Semarang. (metrojateng.com)

“Harga gula pasir di Pasar Peterongan bertahan Rp 13.000 per kilogram,” kata Sabarudin Hulu, Plt Kepala Ombudsman Jateng, kepada metrojateng.com, Sabtu (18/5/2019).

Sabar bilang lonjakan gula pasir sulit diatasi karena pergerakannya sudah terlihat sejak awal Ramadan. Mula-mula, harga gula pasir merangkak naik di angka Rp 11 ribu per kilogram. Kemudian naik lagi jadi Rp 11.500 per kilogram.

“Dan menjadi Rp 13 ribu sejak awal puasa,” cetusnya.

Masih di lokasi yang sama, Sabar mengatakan masyarakat mencoba menghindari potensi lonjakan harga sembako dengan melirik beras dengan harga terjangkau. Komoditas beras yang diminati masyarakat belakangan ini yaitu C4, delangu, mentik wangi.

Bergeser ke Pasar Johar Baru, tim Ombudsman menemukan cabai keriting dijual pedagang seharga Rp 10 ribu per kilogram. Pedagang menyatakan bila ingin membeli partai besar, harganya jadi Rp 7.000 per kilogram.

Kondisi serupa juga dialami untuk harga bawang putih. Di tingkat grosiran dan eceran Pasar Peterongan masih dijual Rp 40 ribu. Harga bawang merah cenderung turun jadi Rp 30 ribu per kilogram. Kondisinya di Pasar Johar beda lagi. Harga bawang merah turun sampai di kisaran Rp 25 ribu per kilogram.

Sementara harga telur ayam curah turun dari Rp 28 ribu per kilogram menjadi Rp 23 ribu per kilogram. Daging sapi terpantau seharga Rp95 ribu sampai Rp 110 ribu per kilogram.

“Para pedagang daging sapi menyebut pemasokan daging masih aman. Tapi pedagang sembako minta supaya tidak dilakukan operasi pasar karena harga sudah stabil, pedagang juga tidak ingin merugi karena kebijakan pemerintah,” paparnya.

Ia menyarankan para walikota dan bupati untuk mengantisipasi lonjakan harga satu minggu sebelum hari raya idulfitri.
Penyelenggara pemerintah daerah mempunyai sebaiknya siaga pada situasi ini dan turun ke pasar melihat harga barang kebutuhan pokok dan pasokannya. (far)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.