Olahan Ikan Asal Jateng Kuasai Ekspor 18 Negara, Tertinggi Tiongkok

Totalnya ada 62 jenis komoditi laut diekspor selama Februari lalu.

SEMARANG – Selama Februari 2019 lalu, setidaknya terdapat 559 ton Surimi atau produk olahan ikan asal Jawa Tengah (Jateng) menguasai ekspor ke sejumlah negara.

Foto: ilustrasi

Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Hasil Perikanan (BKIPM) Kota Semarang menyebut bahwa komoditas Surimi tersebut untuk memasok kebutuhan 18 negara dari ujung Semenanjung Malaka hingga ke negara tepi pantai utara Benua Eropa. Nilai ekspor untuk produk Surimi dalam rentang waktu tersebut mencapai Rp 18 miliar.

Kepala BKIPM Kota Semarang, Raden Gatot Perdana mengatakan itu merupakan salah satu transaksi ekspor tertinggi untuk komoditi perikanan yang dihasilkan di Jateng.

Selain Surimi, hasil laut lainnya dengan volume ekspor terbanyak meliputi udang sebanyak 382 ton dengan nilai sebesar Rp 42 miliar dan rajungan dengan nilai ekspor Rp 44 miliar dengan jumlah volume yang dikirim ke luar negeri sebanyak 145 ton.

Gatot menyebut, totalnya ada 62 jenis komoditi laut diekspor selama Februari. 10 komoditi di antaranya diekspor dengan jumlah terbanyak, yaitu rajungan, udang, kepiting, surimi, cumi-cumi, nila, sisik ikan, kerang, teri dan ikan ayur.

“Selama ini ada 18 negara tujuan ekspor, di antaranya Amerika Serikat, Jepang, China (Tiongkok), Taiwan, Malaysia, Korea, Thailand, Hongkong, Belanda, Singapura dan lain-lain,” ujar Gatot, Rabu (27/3/2019).

Tiongkok, lanjutnya, menjadi negara pengimpor terbesar selama Februari lalu. Volume ekspor dari Jateng dengan tujuan ke Tiongkok mencapai 881 ton. Lalu disusul Jepang dengan volume 732 ton dan Amerika Serikat dengan volume ekspor 341 ton.

Total volume ekspor di bulan Februari 2019 mencapai 3.463 ton. Jumlahnya meningkat jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masih 2.150 ton pada tahun 2018 atau meningkat 61 persen. “Malahan di bulan Februari 2017 volume ekspor sebesar 1.736 ton atau tumbuh sebesar 99,5 persen,” tambahnya.

Tumbuhnya ekspor hasil perikanan disebabkan banyaknya jumlah data sertifikasi yakni 626 kali. Atau naik 27 persen dibanding tahun kemarin.

Menurutnya, peningkatan ekspor ini tak luput dari dukungan penuh Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang mampu meningkatkan mutu layanan ekspor di bidang perikanan baik secara mutu dan keamanan produk serta peningkatan layanan sertifikasi melalui Unit Pelayanan Teknis di daerah.

“BKIPM sebagai UPT yang melaksanakan pelayanan publik senantiasa berkomitmen mendukung peningkatan ekspor produk perikanan Jawa Tengah dengan menerapkan Contiunous Improvement di berbagai lini, dengan mngembangkan dan memperbaiki produk dan pelayanan kepada pengguna layanan,” pungkasnya. (far)

 

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.