Nelayan Semarang Kini Melaut dengan Kapal Berbahan Bakar Gas

Pada tahun 2019, dibagikan 13.305 unit paket konversi di 38 kabupaten/kota, termasuk 556 paket untuk nelayan Kota Semarang.

Nelayan di Mangunharjo Kota Semarang memasang kapalnya dengan mesin konverter berbahan bakar gas LPG setelah menerima bantuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM), Senin (2/12/2019). Foto : metrojateng.com/anggun puspita.

 

SEMARANG – Nelayan di Mangunharjo dan Tambakmulyo Kota Semarang kini beralih memanfaatkan liquid petroleum gas (LPG) sebagai bahan bakar mesin kapal. Langkah ini merupakan pelaksanaan program Konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) yang dicanangkan pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM).

Sebanyak 556 paket konversi dibagikan kepada nelayan di TPI Mangunharjo Kecamatan Tugu Kota Semarang, Senin (2/12/2019). Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Iwan Prasetya Adhi didampingi Sales Branch Manager Pertamina MOR IV wilayah Kota dan Kabupaten Semarang, Alam Kanda serta dihadiri Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu dan Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang, Kistiyono.

Pada tahun 2019, dibagikan 13.305 unit paket konversi di 38 kabupaten/kota, termasuk 556 paket untuk nelayan Kota Semarang.

Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Iwan Prasetya Adhi mengatakan, program konversi BBM ke BBG untuk kapal penangkap ikan bagi nelayan sasaran ini sudah dilakukan sejak 2016.

“Pada tahun 2019, dibagikan 13.305 unit paket konversi di 38 kabupaten/kota, termasuk 556 paket untuk nelayan Kota Semarang. Adapun, pembagian paket konverter kit untuk nelayan ini dilaksanakan di dua lokasi yaitu di TPI Mangunharjo sebanyak 205 paket dan Tambakmulyo sebanyak 351 paket,” ungkapnya.

Adapun, kriteria nelayan yang menerima bantuan adalah memiliki kartu identitas nelayan, menggunakan alat penangkap ikan yang ramah lingkungan, memiliki kapal ukuran di bawah 5 Gross Tonnage (GT) yang daya mesinnya di bawah 13 Horse Power (HP) serta belum pernah mendapat bantuan serupa dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.

“Pembagian paket perdana konversi BBM ke BBG untuk nelayan ini merupakan kali pertama bagi nelayan Kota Semarang. Nelayan yang mendapat paket ini, harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Apabila ada syarat tidak terpenuhi, maka tidak akan masuk sebagai calon penerima,” jelasnya.

Program yang merupakan bagian dari diversifikasi energi ini, memiliki makna kemudahan akses energi di mana nelayan diberikan pilihan terhadap energi yang akan digunakan. Manfaat dari LPG seperti emisi gas buang yang rendah akan membuat penurunan tingkat pencemaran lingkungan secara signifikan.

“Disamping itu, juga menghemat biaya melaut hingga 50 persen dibandingkan menggunakan BBM dan pada akhirnya juga meningkatkan kesejahteraan nelayan. Sebab, uang dari penghematan biaya operasional melaut ini dapat digunakan untuk kebutuhan lainnya,” tandas Iwan.

Terkait pasokan LPG untuk nelayan, Pertamina MOR IV menjamin kelancarannya.

Sales Branch Manager Pertamina MOR IV wilayah Kota dan Kabupaten Semarang, Alam Kanda menyampaikan, pihaknya akan memasok LPG sesuai informasi Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM.

“Dalam acuan tersebut, satu nelayan akan mengkonsumsi 10 tabung per bulan. Ini total 556 nelayan yang menerima paket konverter, maka pada bulan Desember kami akan menambah alokasi 5.600 tabung di delapan pangkalan yang ada di pesisir pantai,” katanya.

Upaya ini, lanjut dia, untuk memudahkan nelayan untuk mengambil tabung di sana. Pertamina juga berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan untuk memantau kondisi di lapangan. Jika butuh tambahan Pertamina siap memasok agar nelayan tetap bisa melaut.

Sementara, Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu berharap, agar para nelayan memelihara bantuan ini dengan baik.

“Kami minta agar menjaga bantuan ini. Jangan sampai kalau butuh uang, peralatan atau tabung LPG-nya malah dijual. Selain itu, diharapkan bantuan ini dapat berkelanjutan karena masih banyak nelayan Kota Semarang yang belum mendapatkannya,” katanya. (ang)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.