Negara Rugi Rp 17,8 triliun Akibat Pembalakan Liar

Lima warga Pati ditangkap karena menebang kayu secara ilegal.

SEMARANG- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim negara mengalami kerugian hingga Rp 17,8 triliun selama tiga tahun akibat kejahatan lingkungan hidup. Bahkan, kerugian terbesar kedua dipicu oleh aksi pembalakan liar (illegal logging).

Dirjen Penegakan Hukum KLHK, Rasio Ridho Sani dan Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hukum (PPH) KLHK, Sustyo Iriyono di kantor BKSDA Jateng, Jalan Suratmo, Semarang, Kamis (25/10/2018). Foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto

“Kerugian negara akibat kejahatan lingkungan hidup yang sudah berkekuatan hukum tetap sejak tiga tahun terakhir yang melalui gugatan pengadilan sebesar Rp 17,8 triliun. Tapi di luar itu negara masih merugi sampai Rp 60 miliar,” kata Rasio Ridho Sani, Dirjen Penegakan Hukum KLHK, saat ungkap kasus di kantor BKSDA Jawa Tengah, Jalan Suratmo, Semarang, Kamis (25/10/2018).

Lebih lanjut, Ridho mengatakan petugasnya telah menindak 533 kasus kejahatan lingkungan. Paling banyak pertama diduduki kejahatan peredaran tumbuhan dan satwa liar.

Kedua, akibat pembakalan liar. Lalu peringkat kedua sampai kelima diduduki aksi kejahatan akibat perambahan hutan, pencemaraan lingkungan serta kebakaran hutan.

Ia menyebut temuan tertinggi berada di Kalimantan dan Sumatera. Menurutnya dampak yang ditimbulkan karena kasus kejahatan lingkungan mulai dari memicu banjir, bencana kekeringan dan bencana alam lainnya.

Tangkap Pembalak di Pati

Ia mengungkapkan aksi kejahatan lingkungan selama ini sulit diprediksi. Seperti misalnya temuan kayu ilegal yang berhasil diamankan oleh tim gabungan KLHK dan TNI/Polri di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati pada Rabu (24/10/2018).

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hukum (PPH) KLHK, Sustyo Iriyono menambahkan ada lima warga yang diciduk petugas atas kasus tersebut. Barang buktinya berupa enam truk berisi kayu ilegal.

“Barang buktinya ada yang berupa bilahan kayu yang dipotong-potong kotak. Ada juga dalam kondisi digergaji,” urainya.

Sustyo menyatakan para pelaku sudah diincar oleh petugasnya sejak lama. Pasalnya, ia mendapati informasi awal, ada pencurian kayu di hutan rakyat milik Perhutani.

Informasi yang dikumpulkan mengerucut pada keberadaan lima warga Ronggo. “Perhutani lapor kepada kita untuk dilakukan penindakan,” tegasnya.

Ia menaksir kerugian yang muncul atas kasus itu lebih dari Rp 200 juta. Karena tiap kubik kayu jati yang disita ditaksir seharga Rp 12 juta-Rp 15 juta.

“Karena penindakan dari aparat belum maksimal dan illegal logging masih marak, maka kita kerahkan kekuatan penuh memberantas illegal logging,” ungkapnya.

Ia mengaku penindakan untuk kasus serupa juga telah dilakukan di Blora, Cepu, sebagian Jawa Barat dan Banyuwangi. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.