Napi LP Kedungpane Simpan HP, Kalapas Akui Ada Kelengahan

Pihak Lapas tidak menampik adanya celah yang dimanfaatkan untuk memasukkan barang seperti handphone hingga narkotika.

Tiga tersangka kasus narkotika yang merupakan jaringan Jepara. Satu di antaranya merupakan narapidana sekaligus pengendali peredaran narkotika. (metrojateng.com/Ahmad Khoirul Asyhar)

SEMARANG – Pengungkapan kasus peredaran narkotika jaringan Jepara yang dikendalikan oleh seorang narapidana (napi) Lapas Kedungpane sekaligus membuka fakta masih ada penghuni lapas yang leluasa menggunakan handphone. Pihak Lapas tidak menampik adanya celah yang dimanfaatkan untuk memasukkan barang seperti handphone hingga narkotika.

Jaringan Jepara yang berhasil diungkap oleh BNNP Jateng pada Rabu (13/2/2019) lalu diketahui dikendalikan oleh seorang narapidana bernama Muzaidin. Saat Muzaidin diamankan dari dalam selnya, petugas menyita dua barang bukti handphone yang diduga digunakan untuk mengendalikan peredaran narkotika.

“Dari kasus ini dapat dilihat ternyata seorang narapidana bisa menyimpan handphone di dalam sel, tidak satu tetapi dua handphone,” kata Kepala BNNP Jateng Brigjen Muhammad Nur, Senin (18/2/2019).

Sementara itu Kalapas Kedungpane Semarang, Dadi Mulyadi, mengatakan memang ada celah yang sering dimanfaatkan oleh warga binaan dan pengunjung untuk memasukkan barang, baik handphone maupun narkotika. Bisa dengan cara dimasukkan ke dalam makanan hingga dilempar dari luar.

“Kami akui memang ada kelengahan petugas. Seperti pada akhir tahun 2018 lalu kami juga menemukan adanya narkotika yang disembunyikan di dalam dubur,” katanya.

Dadi menjelaskan saat ini penghuni Lapas Kedungpane ada 1800 orang. Dari jumlah tersebut 1000 lebih merupakan narapidana kasus narkotika. “Sekarang satu petugas mengawasi 300 warga binaan sehingga kelengahan atau keteledoran bisa saja terjadi. Terus terang dalam tiga bulan terakhir kasus narkotika meningkat sekali,” jelasnya.

Terkait hal itu, kata dia, Lapas Kedungpane Semarang telah melakukan upaya-upaya progresif seperti pembatasan handphone. Program pemberantasan juga ditingkatkan. Dadi menyebutkan pada awal Februari 2019 telah mengirim bandar-bandar narkotika ke Nusakambangan.

“Sepekan kemudian kami juga kirim 50 warga binaan lain, baik kasus narkotika maupun kasus lain yang dianggap meresahkan. Ke depan kami juga akan tingkatkan sinergi dengan banyak pihak. Seperti di ruang pengawasan dan pemeriksaan (Wasrik) akan melibatkan BNN untuk mengawasi barang yang masuk ke dalam Lapas,” tegasnya.

Kepala BNNP Jateng Brigjen Muhammad Nur dan Kalapas Kedungpane Semarang Dadi Mulyadi memberikan keterangan di kantor BNNP Jateng, Jalan Madukoro Blok BB, Semarang.

Diberitakan sebelumnya BNNP Jateng menangkap tiga tersangka terkait kasus peredaran narkotika jaringan Jepara. Ketiganya terdiri atas dua warga Ngabul, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, yakni Jati Wibowo alias Klowor (33) dan Mohammad Subiantoro alias Ngacir (33), serta seorang narapidana Lapas Kedungpane Semarang bernama Muzaidin (42). Tersangka Klowor dan Ngacir merupakan residivis. Klowor diketahui baru selesai menjalani hukuman pada bulan Oktober 2018, sedangkan Ngacir selwaai menjalani hukuman pada Januari 2018. (aka)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.