Musim Kemarau, Waspadai Konflik Monyet dengan Manusia

Rawan konflik terutama di daerah 60 hari tidak hujan seperti di Jepara, Wonogiri dan Kota Semarang.

SEMARANG- Kekeringan yang muncul di Jawa Tengah memiliki potensi kerawanan terhadap konflik satwa liar yang turun gunung ke pemukiman padat penduduk.

Ilustrasi monyet ekor panjang. (Foto pixabay)

Hal tersebut mengemuka tatkala Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Suharman, usai memantau potensi kekeringan yang terjadi di wilayahnya.

“Rawan konflik terutama di daerah 60 hari tidak hujan. Salah satunya di Jepara,” kata Suharman, kepada metrojateng.com, Senin (20/8/2018).

Ia mengungkapkan, bencana kekeringan yang terjadi di area pegunungan kerap membuat kawanan monyet ekor panjang turun untuk mencari sumber makanan dan air minum ke rumah-rumah warga.

“Tahun ini dengan rentang waktu kemarau yang cukup panjang justru memunculkan potensi adanya kawanan monyet yang turun mengganggu area pertanian. Memang saat kemarau berpotensi memicu banyak konflik satwa liar yang melibatkan manusia terutama di kawasan pegunungan,” ujarnya.

Berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ia menegaskan konflik dengan monyet ekor panjang bisa diatasi dengan kearifan lokal.

Suharman menambahkan kawanan monyet ekor panjang bisa diusir dengan menanami ladang makanan mereka dengan tumbuh-tumbuhan jenis tertentu. Tak cuma itu, bebernya, warga pegunungan juga bisa membuatkan embung sebagai tempat minuman para monyet. “Warga biasanya mengusir saja, tidak sampai melukai,” kata dia.

Konflik monyet ekor panjang dengan manusia biasanya muncul di Wonogiri dan sebagian wilayah Gua Kreo di Gunungpati, Kota Semarang.

Dia menyarankan kepada pengelola Goa Kreo agar mengendalikan populasi monyet di sana dengan mengebiri. Pasalnya, potensi konflik terbuka lebar saat musim kemarau. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.