Misteri Gunung Merapi Sebagai Pusat Kerajaan Jin di Jawa (Bag. 1)

Foto yang diunggah rekan Eri Yunanto, 21, di media sosial saat mahasiswa Universitas Atma Jaya itu menaiki batu di bibir kawah Gunung Merapi Sabtu lalu (16/5). Foto: instagram
Foto yang diunggah rekan Eri Yunanto, 21, di media sosial saat mahasiswa Universitas Atma Jaya itu menaiki batu di bibir kawah Gunung Merapi Sabtu lalu (16/5). Foto: instagram

Bicara soal Gunung Merapi pasti tak bisa lepas dari berbagai mitos yang menyelimutinya. Salah satu gunung berapi yang paling aktif di dunia ini tak hanya dikenal karena letusannya yang dahsyat dengan menbawa material vulkanik berupa awan panas tetapi juga dikenal dengan sisi-sisi mistik.

Gunung Merapi ini memiliki ketinggian 2.968 m di atas permukaan laut. Sejak tahun 2004, kawasan hutan di sekitar puncaknya dijadikan sebagai Taman Nasional Gunung Merapi dan dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam.

Masyarakat di sekitar gunung yang meliputi 4 kabupaten yaitu Boyolali, Magelang, Sleman dan Klaten ini percaya bahwa Merapi adalah Pusat Kerajaan Jin di Jawa. Tak heran peristiwa jatuhnya, Erry Yunanto ke kawah Merapi oleh penduduk lokal dipercaya sebagai ‘tumbal’ penunggu gunung yang terakhir meletus pada tahun 2010.

Seperti apa mitos Gunung Merapi sebagai Pusat Kerajaan Jin di Jawa?

Menurut penduduk sekitar Merapi, Gunung ini dibagi menjadi 3 area khusus, masing-masing dengan ciri dan mitos yang berbeda yaitu:

1. Pasar Bubrah

Area Pasar Bubrah Gunung Merapi sering dijadikan tempat beristirahat para pendaki. width=
Area Pasar Bubrah Gunung Merapi sering dijadikan tempat beristirahat para pendaki. Foto: http://yuliaslovic.com

Pasar Bubrah merupakan sebuah punggung bukit yang tepat berada di bawah kawah Merapi. Topografi di lokasi ini cukup datar dan didominasi dengan bebatuan sisa letusan terdahulu. Di lokasi ini juga tidak terdapat pepohonan tinggi besar. Jaraknya hanya satu kilometer dari puncak.

Karena lokasinya yang datar, kawasan Pasar Bubrah ini menjadi tempat para favorit para pendaki untuk beristirahat. Mereka biasanya bermalam dan mendirikan tenda sebelum meneruskan pendakian esok hari.

Nah, pada malam hari berdasarkan cerita para pendudukan dan pengalaman para pendaki, di sini saat malam tiba sering terdengar suara riuh rendah mirip sebuah pasar. Padahal kondisi saat itu sangat sepi karena para pendaki memilih berdiam diri didalam tenda karena cuaca yang teramat dingin.

Tak hanya suara riuh rendah yang terdengar disini, terkadang juga terdengar suara gending Jawa yang mengalun dari gamelan dan kendang. Oleh karena itu, oleh masyarakat sekitar, kawasan tersebut dinamakan Pasar Bubrah atau pasar yang ramai dengan pembeli.

Lebih mengerikannya lagi di Pasar Bubrah ini, para pendaki juga kerap dijumpai penampakan makluk halus. Ada yang berwujud wanita berambut panjang yang bergelantungan di pohon, ada pula penampakan dengan wujud penjaga keraton berapakaian adat Jawa. Bahkan ada yang pernah ditemui sesosok wanita dengan pakaian ala sinden di pertunjukan wayang kulit. (hwd/bersambung)

 

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

68 − 58 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.