Merdeka Belajar ala AGPAII

Oleh: Hery Nugroho

(Mahasiswa Program Doktor UIN Walisongo Semarang dan Pengamat Pendidikan)

Inovasi Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, BA, MBA, dengan mengeluarkan kebijakan Merdeka Belajar, patut didukung berbagai pihak. Sebagai mahasiswa yang menekuni bidang pendidikan sejak S1 sampai S3 sekarang, teringat dengan tokoh-tokoh pendidikan dan psikologi dunia. Diantaranya konsep Paulo Freire tentang pedagogik pembebasan, atau Carl Rogers yang mempunyai perhatian besar terhadap kemerdekaan individu dalam berekspresi. Pemikir Islam pun, Ali Syari’ati (1996) mengungkapkan, manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas yang merupakan kekuatan yang paling besar dan luar biasa.

 

Hery Nugroho

Selain itu, tokoh pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara menyatakan, kemerdekaan sebagai asas pendidikan. Tanpa kemerdekaan tidak ada kamajuan. Ki Hadjar membagi tiga unsur di dalam asas kemerdekaan, yaitu: berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, dan dapat mengatur sendiri (HAR. Tilaar, 1995).

Dari pemikiran tokoh-tokoh di atas ada benang merah dengan konsep Mas Menteri, yaitu memberikan ruang setiap individu untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Konsep Merdeka Belajar sendiri memberikan ruang kepada seluruh pemangku kepentingan pendidikan menjadi agen perubahan serta memberikan pengaruh dan dukungan sepenuhnya untuk mewujudkan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia (Kemendikbud, 2020).

Melihat kenyataan sekarang, dengan adanya Covid-19, masyarakat global terkena dampaknya. Dalam bidang pendidikan, pembelajaran dilakukan dengan cara daring. Sedangkan bidang ekonomi, banyak Negara yang terancam resesi. Data dari situs www.kompas.com yang di publish pada tanggal 13 Agustus 2020, ada 10 negara yang jatuh resesi (Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Singapura, Filipina, dan Inggris). Sedangkan Indonesia, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, ekonomi nasional berpotensi minus sepanjang tahun 2020 (www.detik.com yang di publish pada tanggal 29 Agustus 2020).

Masalahnya, bagaimana cara menggerakkan agar guru, kepala sekolah pengawas, dan siswa belajar pada masa pandemi? Menjawab hal tersebut, penulis mengamati langsung, diantara organisasi guru yang dapat menggerakkannya adalah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Jawa Tengah. AGPAII merupakan organisasi profesi yang beranggotakan  guru PAI, kepala Sekolah berlatar belakang PAI, dan pengawas PAI dari jenjang TK, SD, SLB, SMP, SMA, dan SMK.

 

Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Siswa Belajar

Pada masa New Normal ini, dalam pengamatan penulis, AGPAII Jawa Tengah sangat aktif menggerakkan guru PAI, Kepala Sekolah PAI, Pengawas PAI, dan siswa untuk terus belajar. Data dari AGPAII Jawa Tengah mulai bulan Maret sampai Agustus 2020, ada lebih dari 100 kegiatan yang dilakukan secara virtual dengan biaya mandiri. Ini kalau dilaksanakan secara tatap muka, tentunya akan menelan biaya yang sangat besar. Diantara bentuk merdeka belajar ala AGPAII Jawa Tengah adalah:

Pertama, Guru PAI, Kepala Sekolah yang berlatar belakang dari PAI, dan Pengawas PAI belajar melalui workshop maupun webinar.  Fokus dari kegiatan ini bagaimana mengimplementasikan pembelajaran PAI pada masa new normal berbasis android. Materi yang disampaikan adalah: eksplorasi fitur-fitur aplikasi KTA AGPAII Digital, Penyusunan RPP tiga komponen melalui aplikasi RPP AGPAII Digital, Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis Android, Penyusunan Instrumen Penilaiaan PAI dengan aplikasi Penilaian AGPAII Digital, penguatan moderasi beragama dan kebangsaan.

Kelebihan dari model yang dikembangkan oleh AGPAII adalah semua pelaksanaan workshop dilakukan secara daring dan menggunakan aplikasi AGPAII Digital. Yang membedakan dengan organisasi lain, AGPAII dalam workshopnya berbasis aplikasi KTA AGPAII Digital, RPP AGPAII Digital, dan Penilaian AGPAII Digital. Aplikasi ini sangat mudah diakses peserta, karena cukup mendownload di playstore atau mengkases di website. Selama workshop virtual tersebut disiarkan langsung melalui youtube dan dapat dilihat kembali oleh guru PAI, kepala sekolah, dan pengawas PAI di channel youtube AGPAII Jawa Tengah. Apabila tidak bisa mengikuti pada waktu pelaksanaan workshop, peserta dapat mengikuti melalui  youtube.

Kelebihan lainnya untuk penugasan mandiri, peserta wajib mengupload hasilnya pada aplikasi AGPAII Digital. Sehingga dari panitia mudah untuk mengontrolnya. Selain itu, guru yang lain dapat melihat hasil kinerja guru sejawat sebagai inspirasi dan memberikan komentar. Sedangkan bagi kepala sekolah dan pengawas PAI dapat mensupervisi hasil workshop yang telah diikuti oleh guru PAI. Dalam hal pembiayaan penyelenggaran, peserta workshop ini tidak ditarik biaya. Untuk menguatkan isi workshop, AGPAII bekerjasama dengan kampus, yaitu Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang. Sehingga secara akademik, pelaksanaan workshop dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, guru PAI, Kepala Sekolah yang berlatar belakang PAI, dan Pengawas PAI belajar menjadi host, pemantik, dan narasumber. Dengan banyaknya kegiatan yang digelar baik workshop atau webinar atau pertemuan virtual, tentunya banyak membutuhkan posisi sebagai host, pemantik, dan narasumber. Karenanya, sistem perekrutannya secara terbuka dengan melibatkan Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) PAI, Forum Komunikasi Guru (FKG) PAI TK, Kelompok Kerja Guru (KKG PAI) SD, KKG SLB, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI SMP, SMA, dan SMK Provinsi Jawa Tengah. Kelihatannya untuk menjadi host adalah hal yang mudah, ternyata tidak semua guru bisa. Solusinya, sebelum diselenggarakan pelatihan menjadi host dan simulasi menjadi pemantik dan narasumber.

Ketiga, siswa dari semua jenjang dari TK, SD, SLB, SMP, SMA, dan SMK belajar mata pelajaran PAI. Dalam implementasinya, AGPAII Jawa Tengah menggunakan tiga model, yaitu: 1) bekerjasama dengan RRI Semarang untuk mengisi pembelajarannya. Di mana guru PAI sesuai jenjangnya, secara bergantian siaran dari rumah untuk menyampaikan materinya yang dipandu oleh penyiar RRI dari studio; 2) kolaborasi dengan Pokjawas PAI, FKG PAI TK, KKG PAI SD, KKG SLB, MGMP PAI SMP, SMA, dan SMK Provinsi Jawa Tengah untuk menyelenggarakan program AGPAII Mengajar secara virtual dan disiarkan langsung melalui Youtube; 3) bekerjasama dengan TVKU Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Di mana guru PAI datang ke studio TVKU untuk menyampaikan materi pembelajaran dan siarkan langsung di Youtube. Melalui tiga model tersebut, siswa dapat memilih mengikuti pembelajaran dari guru-guru PAI dan pengawas PAI terbaik sesuai dengan kondisi masing-masing.

Dalam pelaksanaan merdeka belajar ala AGPAII Jawa Tengah, menurut penulis adalah menggunakan prinsip kerjasama dengan berbagai stakeholder yang ada di Jawa Tengah. Hal ini mengimplementasikan salah satu nilai pancasila, yaitu gotong royong atau dalam bahasa agama, yaitu ta’awun (tolong menolong). Selain itu program AGPAII Jawa Tengah dengan menggerakkan guru PAI, Kepala Sekolah, Pengawas, siswa untuk belajar –dalam bahasa Johan Friedrich Herbart– sebagai manusia pembelajar. Atau dalam Islam dikenal dengan belajar sepanjang hayat. “Uthlubul ilma min al-lahdi ila al-lahdi” (Carilah ilmu dari buaian hingga liang lahat).

Langkah nyata untuk terus belajar yang dilakukan AGPAII Jawa Tengah perlu dilakukan bersama-sama seluruh masyarakat Indonesia. Apabila dilakukan bersama-sama, visi Pendidikan Indonesia 2035, yaitu membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila akan terwujud. Seringkali yang menjadi alibi banyak orang atau organisasi guru adalah dana. Merdeka belajar ala AGPAII Jawa Tengah memberikan bukti nyata, biaya bukan menjadi penghalang untuk menggerakkan guru, kepala sekolah, pengawas, dan siswa untuk terus belajar.*

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.