Menunggu 7 Tahun, ‘Dokter Ban’ asal Mangkang Akhirnya Keturutan Naik Haji

SAFUAN Azis sedang memompa ban sepeda motor pelanggannya ketika disambangi di tempat mangkalnya pada Rabu (25/7). Peluh membasahi dahinya. Tetapi di usianya yang menapaki angka 64 tahun, Azis, sapaannya masih sigap melayani pelanggannya yang mampir di bengkel tambal bannya.

Tukang tambal ban naik haji
Safuan Azis akhirnya keturutan berangkat haji dari jerih payahnya sebagai tukang tambal ban. Foto: fariz fardianto

“Pagi ini sudah lumayan banyak pelanggan yang mampir kemari, Mas. Warga-warga sini seringnya minta  nambal ban sama nambah angin,” kata Azis.

Azis bilang penghasilannya menambal ban saban hari tak menentu. Jika ramai kadang ia dapat Rp 50 ribu. Tetapi kala sepi ia hanya bisa pasrah menunggu di depan rumahnya. “Karena melihat saya sudah tua, istri saya minta saya mbengkel di depan rumah saja. Biar enggak capek,” ujarnya.

Azis mengaku sangat beruntung di tahun ini. Penghasilannya dari menambal ban sejak belasan tahun silam akhirnya bisa dipakai untuk membiayai dirinya dan sang istri untuk berangkat haji.

Azis bersama istrinya, Musharofah, sudah dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci Mekkah pada 6 Agustus nanti. Ia terdaftar dalam kloter 70 yang akan terbang pukul 00.00 WIB dari Embarkasi Donohudan, menuju Arab Saudi.

“Persiapannya sekadar membawa pakaian secukupnya lalu dianjurkan tidak bawa makanan banyak-banyak. Yang penting saya sediakan perlengkapan obat-obatan saja buat jaga kesehatan,” tuturnya.

Niat untuk mencium Kabah semula terbesit dari hati istri tercintanya. Mula-mula istrinya yang bertahun-tahun bekerja sebagai buruh pabrik dengan tekun menyisihkan gajinya. “Itu saja dia ngumpet-ngumpet. Ndak pernah ngasih tahu kepada saya,” kata Azis dengan logat Jawa campuran.

Ia yang jadi tukang tambal ban sejak 2008 juga tekun menabung. Hasil menambal ban sedikit demi sedikit dikumpulkan saban hari. Puncaknya terjadi pada medio 2010 silam. Saat itu, Rumahnya di Kampung Mangunharjo RT 02/RW II Tugu terendam banjir besar. Banjir bandang akibat luapan air dari sungai besar sampai masuk ke dalam rumahnya.

“Istri saya nanya, pak wakul nasi di kamar ditaruh mana. Saya jawab, masih ada di kamar,” akunya.

“Ternyata setelah dibuka isinya uang Rp 50 juta. Dia bilang itu tabungan dari hasil nambal ban dan uang gajinya dulu yang dipakai buat ongkos berangkat haji,” sambungnya.

Ia pun mendaftar ibadah haji sejak 2011. Uangnya Rp 50 juta dipakai untuk ongkos awal. Untuk sisanya, ia terpaksa menjual motor kesayangannya. Total uangnya terkumpul Rp 36 juta untuk berangkat haji dengan istrinya.

Kakek tujuh cucu ini berkata bisa naik haji benar-benar sebuah keajaiban dari Allah SWT. Ia dan istrinya selalu ikut mengantarkan tetangganya yang berangkat haji, ternyata tahun ini keturutan naik haji bersama delapan warga kampungnya.

“Kalau dipikir-pikir penghasilan sama pengeluaran itu minus. Ndilalah Gusti Allah memanggil saya untuk ke Mekkah. Allhamdullilah saya akan berangkat ibadah haji tanggal 6 Agustus nanti,” jelas bapak empat anak ini.

Ada cerita menggelitik ketika dirinya ikut manasik haji di RS Roemani Semarang. Usai manasik terakhir pekan lalu, ia punya kesempatan memperkenalkan diri di hadapan ratusan calon jemaah lainnya. Awalnya Azis mengaku minder. Musababnya, banyak calon jemaah lainnya yang punya jabatan mentereng.

“Ada yang jadi pengawas keuangan DPKAD, dokter sampai pengusaha. Saya dalam hati sempat minder. Begitu diminta ngenalin diri, saya spontan saja bilang kalau saya juga dokter. Bedanya kerjaan saya dokter ban. Saya bilang saya juga bisa nyuntik ban lho tiap nambal ban motor. Semuanya pada ger-geran,” terangnya.

Ia berharap hajinya bisa mabrur. Dengan begitu harapannya menunaikan rukun Islam bisa tercapai di sisa hidupnya saat ini. (far)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.