Menumbuhkan Minat Baca Generasi Muda melalui Literasi Digital

Minat membaca bisa dibangun dengan hal-hal yang disukai terlebih dahulu.

SEMARANG –¬†Perubahan zaman membawa perubahan perilaku generasi yang hidup di dalamnya. Jika zaman dahulu saat hanya tersedia buku fisik, orang membaca sumber informasi dari hasil print out tersebut. Namun saat ini muncul sumber informasi baru yang mudah didapat melalui gadget dalam bentuk digital.

Kegiatan seminar “Menumbuhkan Minat Baca Generasi Muda melalui E Literasi” di SMA Sint Louis Semarang, Rabu (12/6/2019). Foto: metrojateng.com/ade lukmono

Generasi muda saat ini memiliki banyak pilihan untuk menambah informasi, mulai dari buku, artikel atau jurnal ilmiah yang ada di internet, bahkan dari sosial media yang lebih dekat dengan mereka.

Hal tersebut yang membuat mahasiswa Progdi Ilmu Komunikasi Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (Ilkom) Universitas Semarang (USM) membuat sebuah acara bertajuk “Menumbuhkan Minat Baca Generasi Muda melalui E Literasi” di SMA Sint Louis Semarang untuk merangsang generasi muda untuk mulai memperhatikan literasi digital.

Panitia kegiatan, Adhityanda mengatakan anak muda zaman sekarang yang dekat dengan gadget akan lebih mudah diajak memahami sesuatu atau membaca dari gadget mereka. Karena gadget hampir selalu dalam genggaman, tidak ada salahnya jika dimanfaatkan untuk menambah wawasan dengan cara membaca hal-hal baru melalui gadget.

“Mungkin saat ini agak sulit mengajak anak-anak muda untuk membaca buku-buku konvensional. Memang masih ada peminatnya tetapi mungkin tidak lebih banyak daripada pembaca melalui gadget,” katanya, Rabu (12/6/2019).

Pembicara dalam kegiatan tersebut sekaligus Dosen Universitas Diponegoro, Khotibul Umam memaparkan membaca tidak harus selalu identik dengan hal-hal serius. Minat membaca bisa dibangun dengan hal-hal yang disukai terlebih dahulu, seperti komik, informasi di media sosial, caption di instagram dan sebagainya.

Umam menjelaskan, orang yang gemar membaca memiliki kepekaan lebih mengenai maksud dari tulisan tersebut. “Misal ada gebetan atau pacar yang membuat caption instagram, kita yang sering membaca akan lebih peka dalam menaksir inti pesannya ketimbang mereka yang tidak gemar membaca,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan minat baca generasi muda saat ini, perpustakaan juga diharapkan berkembang mengikuti zaman. Perpustakaan saat ini memiliki kesan kuno di mana hanya terdapat rak buku dan meja formal. Bagi generasi muda, hal ini kurang menarik.

“Di beberapa perpustakaan, sudah bertransformasi menjadi lebih modern, seperti menyatu dengan cafe dan desain ruangan yang tidak monoton. Kalau bisa disediakan tempat baca yang lebih santai atau bisa saja disediakan lesehan,” katanya.

Umam menambahkan, literasi digital sebenarnya tidak hanya dibutuhkan generasi muda untuk menyaring informasi di dunia maya saja, melainkan juga sangat dibutuhkan oleh generasi tua yang saat ini mudah terpengaruh berita bohong.

Banyak grup WhatsApp, terutama dari keluarga yang banyak terdapat informasi palsu di mana pengirimnya sebagian besar adalah orang yang lebih tua. Hal tersebut tidak lepas karena kurangnya literasi digital di kalangan orang tua sehingga kurang mampu menyaring berita yang benar dan hoaks. (ade)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.