Menkeu Bangga Bea Cukai Jateng-DIY Sita Barang Bukti Rp 55 miliar

Di antaranya barang bukti terbesar yang disita pita cukai dan rokok ilegal senilai Rp 20,7 miliar.

SEMARANG- Bea Cukai Jateng dan DIY sepanjang 2018 menyita barang bukti pelanggaran berbagai kasus senilai Rp 55 miliar.


Petugas memusnahkan barang bukti di halaman Kantor Bea Cukai, Jalan Ahmad Yani Nomor 139, Semarang, Rabu (12/12/2018). Foto: metrojateng.com/Efendi

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, berbagai operasi seperi Gempur dan Operasi Gabungan dengan unit penindakan dan berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara senilai Rp 55 miliar.

Barang bukti yang disita terdiri atas pita cukai dan rokok ilegal Rp 20,7 miliar, minuman keras ilegal Rp 779 juta, barang asal impor maupun perusahaan penerima fasilitas kepabeanan Rp 33,8 miliar dan pelanggaran bidang ekspor Rp 528 juta.

“Pita cukai ini selembar 60 keping. Dalam 1 lembar Rp 720 ribu, satu rim bisa Rp 360 juta,” imbuh Sri Mulyani di kantor Bea Cukai Wilayah Jateng dan DIY, Jalan Ahmad Yani Nomor 139, Kota Semarang, Rabu (12/12/2018).

Dirjen Bea Cukai, Heru Pambudi menambahkan dari barang bukti pita cukai saja, kerugiannya mencapai kurang lebih Rp 10 miliar. “Untuk pita cukai saja Rp 10 miliar,” kata Heru.

Di wilayah Jateng dan DIY sendiri, lanjut Heru ada sebanyak 28 kasus dengan 25 tersangka yang ditangani sepanjang tahun 2018. Beberapa di antaranya sudah P21 dan siap dilimpahkan ke kejaksaan untuk mengikuti proses hukum selanjutnya.

Sementara dalam penindakan tingkat nasional, sepanjang 2018 Bea Cukai melakukan 5.962 pendindakan. Jumlah tersebut mengalami peningkatan jika dibandingan dengan tahun 2017 lalu yakni 3.965 penindakan.

“Proses hukumnya di Jateng-DIY ada total 28 case dengan tersangka 25 orang. Untuk barang seperti pakaian dari luar negeri ada dari Cina untuk pengumpulannya di Malaysia, bisa di Thailand. Sedangkan minuman keras berasal dari produsen terkenal tapi transit poinnya di Singapura,” beber Heru.

Sementara itu, menjelang pergantian tahun, Sri meminta peningkatan kewaspadaan petugas terhadap upaya penyelundupan barang terutama minuman keras. Kerawanan penyelundupan minuman keras tinggi, karena Indonesia sebagai negara tujuan.

“Jelang akhir tahun seperti ini, Kanwil sering lapor frekuensi penyelundupan dalam bentuk drug meningkat. Indonesia menjadi salah satu negara tujuan dari upaya-upaya tersebut,” imbuh Sri.

Maraknya penyelundupan minuman keras ke Indonesia dipicu harga cukai menurut kandungan alkohol pada setiap kemasan. Ia mencontohkan Vodca yang mengandung alkohol 40 persen, cukainya lebih tinggi dibanding kelas B atau A seperti bir. Para pelaku kemudian menyelundupkan barang tersebut untuk menghindari pajak.

“Makanya ada intensif penyelundupan. Beberapa waktu lalu ada kontainer di Bali isinya MMEA (minuman mengandung etil alkohol) tapi diberitakan lain,” ujar Sri. (fen)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.