Menjaga Kelestarian Budaya Keraton melalui Organisasi Putri Narpowandowo

Organisasi Putri Narpowandowo yang ikut berpartisipasi dalam kongres perempuan Indonesia pertama itu sempat vakum hingga beberapa waktu lamanya dan kembali dihidupkan sekitar 1995.

SOLO – Putri Sinuhun Paku Buwono XII, GKR. Koes Moetiyah mengerakkan kembali organisasi Putri Narpowandowo. Organisasi yang seluruh anggotanya adalah wanita keturunan keraton ini, nantinya akan konsen terhadap pelestarian budaya Jawa khususnya dalam bidang pendidikan.

Suasana silaturahmi para Putri PB XII dengan anggota organisasi Putri Narpowandowo di Ndalem Kayonan, kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Foto: metrojateng.con

Menurut GKR Wandansari Koes Moertiyah atau yang kerap disapa Gusti Moeng, organisasi Putri Narpowandowo berdiri pada 5 Juni 1931. Organisasi ini didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X dan beranggotakan para putri dan kerabat wanita Keraton Kasunanan Surakarta.

“Organisasi Putri Narpowandowo ini merupakan salah satu organisasi wanita tertua di Indonesia,” ujarnya, saat ditemui di Ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo, belum lama ini.

Organisasi Putri Narpowandowo yang ikut berpartisipasi dalam kongres perempuan Indonesia pertama itu sempat vakum hingga beberapa waktu lamanya dan kembali dihidupkan sekitar 1995. “Organisasi ini fokus pada pendidikan, karena Pakasa (Paguyuban Kawula Surakarta) mulai ngerembaka (berkembang) maka perempuannya mulai diajari organisasi yang dasarnya hanya untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan yang sumbernya dari Keraton Surakarta,” ujarnya.

Saat ini, perwakilan Yayasan Putri Narpowandowo sudah tersebar di berbagai daerah di luar kota Solo, salah satunya ada di Jakarta. Kebanyakan dari merekan adalah keturunana Raja Mataram.

Lebih lanjut Gusti Moeng berharap, organisasi Putri Narpowandowo ini juga menjadi jendela ilmu budaya Jawa di Keraton, meski saat ini masih terjadi konflik, namun ia berharap para keturunana Paku Buwono secara bersama-sama masih melestarikan budaya.

“Kita hanya ingin melestarikan budaya kepada para generasi selanjutnya, biarkan saja mereka (kubu PB XIII-red) yang duduki Keraton, tetapi budaya kita jangan sampai hilang,” pungkasnya. (MJ-25)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.