Mengharukan! Perjuangan Tukang Tambal Ban di Kendal Raih Gelar S2

image
Ngadiyono tengah menambal ban di bengkelnya di daerah Boja Kendal. Foto: metrojateng.com/MJ-01

KENDAL – Kadiyono (46) warga Dusun Jagalan RT 1 RW 1 Desa Boja Kecamatan Boja Kendal berhasil meraih gelar Magister Pendidikan meski profesinya hanya tukang tambal ban. Kabupaten Kendal tidak malu dan minder menjadi tukang tambal ban pinggir jalan. Kadiyono bangga dengan pekerjaan sebagai tukang tambal ban, ia bisa membiayai kuliah hingga awalnya lulus S1 dan kini menyandang lulusan S2.

Seperti apa perjuangan Ngadiyono menggapai cita-citanya meraih gelar S2?

Setiap hari bapak tiga orang anak ini hanya mengenakan kaos dan celana pendek, serta bergumul dengan peluh membuka dan menambal ban. Lulusan Magister Pendidikan (MPd) dari Universitas Muhammadiyah Surakarta ini mengaku, dari menambal ban ini bisa membiayai kuliah hingga S2.

“Syukur, berkat tambal ban ini, saya lulus S1 dan mendapatkan gelar Sarjana Sosial (S Sos) dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom). Dan baru gelar S2 nya di Universitas Muhammadiyah Surakarta,” kata dia.

Dikatakanya, usaha menjadi seorang tukang tambal ban ini sudah ditekuninya sejak usia delapan tahun. Dan sejak lulus SMA Muhammadiyah 2 Boja, 1989 silam, langsung mengikuti kursus montir.

Setelah itu, satu tahun kemudian, dia berkeinginan akan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi. Dan ternyata, tambatan hatinya, memilih STIK Semarang, namun  perjuangannya tidak mulus. Dia sempat berhenti kuliah setelah menikahi Mutmainah pada 1997.

Cuti itu terpaksa dilakukannya, karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan. Lebih lagi, dua tahun kemudian, anak pertamanya lahir dan diberi nama Rizki Agung Murdiyono.

”Saat cuti, semua materi mata kuliah sudah hampir kelar semuanya. Dan tahun itu kondisi keuangan mulai membaik, saya kemudian melanjutkan kuliah kembali. Dan akhirnya, baru dapat diwisuda 2001. Sebelumnya, setiap pulang kuliah saya buka tambal ban,” ujarnya.

Diungkapkanya, sewaktu menempuh pendidikan jenjang S1, dia terpaksa harus bolak-balik Semarang-Boja dengan mengendarai motor bentley tua-nya. Meski begitu, tak ada rasa putus asa yang menyelimuti dirinya. Dan sampai suatu ketika, dia mendapat kesempatan menjadi guru di SD Muhammadiyah Boja. Dari situlah, baru mendapat tunjangan sertifikasi selama dua tahun. dari tunjangan itu, dimanfaatkan dirinya untuk mengambil S2.

Akhirnya, keinginanya untuk menempuh pendidikan ke Magistra terpenuhi tahun 2010, yakni, dengan memilih kelas karyawan yang masuk setiap Jumat-Minggu. Selama menjalani kuliah kelas karyawan, setiap Jumat malam dan Sabtu malam, dia selalu menginap di asrama kampus. Dan dari belajar di UMS itu, diwisuda dan mendapatkan gelar MPd nya pada 2012.

”Awalnya, saya musyawarah sama istri, dari tunjangan ini, bagaimana kalau untuk mengambil S2, dan istri sangat mendukung. Meski kini, sudah S2, tapi masih ingin belajar lagi, agar bisa meraih gelar doktor. Saya tahu, biayanya mahal, tapi hingga kini saya sudah mencari beasiswa, tapi belum berhasil,” terangnya yang kini selain menjadi tutor di Universitas Terbuka Semarang juga mendapat amanah memegang jabatan Kepala SLB Surya Gemilang di Kecamatan Limbangan ini. (MJ-01)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

62 − 52 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.