Mengenal Didit Endro, Seniman Serbabisa asal Jepara

Kemampuan teaternya mulai diasah dalam kelompok seni Teater Mistar kampus STIK, yang saat ini menjadi Stikom Semarang.

NAMA Didit Endro S tentu tak asing lagi di telinga masyarakat Kabupaten Jepara, apalagi di kalangan seniman. Di usianya yang menginjak 59 tahun ini, ia masih produktif berkarya.

Didit Endro S saat membaca puisi di dalah satu acara sastra. Foto: dokumentasi

Jiwa seni yang lahir sejak duduk di bangku SMA, kini masih mengalir pada dirinya. Ya, ia bahkan kerapkali terlibat langsung nguri-uri kesenian yang ada di Kota Ukir.

Kemampuan teaternya mulai diasah dalam kelompok seni Teater Mistar kampus STIK, yang saat ini menjadi Stikom Semarang. Itu ternyata membuka pintu-pintu kesenian lain yang kemudian ia geluti. Mulai dari melukis, seni instalasi, performence art (seni pertunjukan), seni sastra, musik, hingga seni tradisional barongan.

Pria kelahiran Grobogan, 26 April 1970 ini pun mendirikan Sanggar Seni Gaperto Desa Jambu Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, dua tahun setelah menyelesaikan kuliahnya yakni di tahun 1998.

Bersama sanggar seni Gaperto (Gaperto Art Community) -sekarang menjadi Yayasan Gaperto, didid semakin banyak mencipta. Setidaknya ada puluhan lukisan (yang masih tersimpan), dua tari kolosal, belasan lagu, serta membuat karya spektakuler berupa barongan raksasa berukuran jumbo yakni lebar 5,5 m panjang 17 meter dengan tinggi hampir 4 meter. Barongan ini sempat dilaunching di alun-alun kota Jepara April 2012 lalu.

Di seni musik ia mendirikan grup musik kreatif “Dudu Menging” warna dari musik ini sangat berbeda dg musik-musik pada umumnya. Ia memadukan alat musik tradisional (gamelan) dengan alat musik modern, dan semua garapannya non elektrik.

Karya lain yang patut diapresiasi adalah sastra. Selain menulis cerpen, ia juga getol menulis puisi. Karya puisinya pernah terbit dalam buku “Ampak-ampak Kalogawe, “kucing hitam”, “Bercermin Saja Belum Cukup”. Dan sejumlah buku antologi bersama.

“Saya suka dengan dunia seni sejak SMA. Saat itu saya belajar menulis sastra. Kemudian saya melanjutkan mendalami ini di teater kampus,” katanya kepada metrojateng.com.

Ia mengaku tidak membatasi diri dalam menggeluti dunia seni. Artinya, ia menerobos di genre kesenian lain. Alhasil, ia mampu berperan aktif di sejumlah kegiatan kesenian di Jepara khususnya.

“Beberapa kali nulis naskah dan menjadi sutradara teater, tari, melukis dan juga berkarya di musik. Sanggar Seni Gaperto memang mengembangkan beberapa genre kesenian, bahkan kesenian rakyat yakni barongan,” tuturnya.

Didit juga penggagas antologi puisi bersama “Membaca Jepara”. Buku ini akan terbit untuk kelima di Oktober mendatang.

“Buku ini untuk ruang bagi penyair Jepara. Dan, buku ini juga menjadi materi dalam lomba baca puisi kreatif Jawa Tengah yang diadakam Gaperto tiap tahun. Ini sudah ke 8 kalinya,” papar dia.

Seniman yang karyanya pernah tercantum dalama “Sesapa Mesra Selinting Cinta” penyair Asia Tenggara ini kini aktif keliling negeri bersama penyair Indonesia dengan Puisi Menolak Korupsi (PMK).

“Saat ini, saya juga sedang proses penerbitan buku puisi yang ke VI yakni “Kursi kosong”, semoga kelar,” tandasnya.(MJ-23)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.