Mengagumi Purworejo dari Hutan Pinus Kalilo dan Goa Seplawan

Memang rasanya tidak cukup hanya satu dua jam singgah di Hutan Pinus Kalilo. Sebab dapat menenangkan dan menenteramkan hati juga pikiran dari rutinitas harian.

Deretan pohon pinus berjejer di objek wisata Hutan Pinus Kalilo Kabupaten Purworejo. Foto : metrojateng.com/anggun puspita.

SUASANA terasa teduh ketika saya membuka mata dari tidur saat dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Purworejo. Saya terbangun karena merasakan minibus yang membawa kami melewati jalan berkelok-kelok di perbukitan. Dari balik jendela, tampak sinar matahari pada tengah hari itu terhalau oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi menembus langit. Sambil melihat petunjuk di sekeliling, ternyata kami sudah sampai di kawasan wana wisata Kulonprogo dan sesuai petunjuk jalan sebentar lagi akan tiba di Desa Kalilo lokasi tujuan kami, Hutan Pinus Kalilo. Terletak di Kelurahan Tlogoguwo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, kawasan hutan pinus ini berada di Selatan Kabupaten Purworejo dan berjarak kurang lebih 14 km dari pusat kota. Selain itu, objek wisata ini juga berbatasan dengan Kabupaten Kulonprogo. Jika dari Yogyakarta, untuk menuju ke sana bisa memilih jalur Godean ke arah Kulonprogo.

Spot instagramable Puncak Titanic di Hutan Pinus Kalilo dipenuhi pengunjung yang ingin berswafoto di sana. Foto : metrojateng.com/anggun puspita.

Tidak sekadar penasaran ingin berpetualang ke tempat tersebut, tapi saya juga ingin membuktikan apakah Hutan Pinus Kalilo benar-benar indah seperti cerita orang-orang yang pernah berkunjung ke sana. Sebab, namanya terus disebut-sebut sebagai objek wisata baru yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di sela kami mengikuti acara pelatihan jurnalis Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah di salah satu hotel di Yogyakarta, belum lama ini.

Bahkan, Rini W Hartanti, Kepala Divisi Sistem Pembayaran BI Jateng, yang saat itu semeja dengan saya juga meyakinkan bahwa Hutan Pinus Kalilo dan segala potensi di sana sangat istimewa.

“Pokoknya bagus, bedalah dengan hutan pinus lainnya, karena di sana pemandangan alam hutannya masih perawan. Belum terjamah oleh para wisatawan. Apalagi, kalau beruntung di Kalilo ada durian yang rasanya enak sekali, dagingnya tebal dan rasanya legit,” tutur Bu Rini mempromosikan.

Menuju pintu masuk Hutan Pinus Kalilo di Kabupaten Purworejo. Foto : metrojateng.com/anggun puspita.

Benar! Begitu memasuki Hutan Pinus Kalilo, kami disambut pohon pinus yang berjejer rapi di kanan dan kiri jalan. Setelah minibus terparkir dan kami turun, hawa sejuk pun langsung menyapu kulit, dan suasana di sana sungguh menenangkan. Terdengar suara burung yang terbang dan hinggap di ranting pohon serta gesekan daun-daun yang tertiup angin hingga membuat suasana sungguh syahdu.

Pengalaman Berswafoto di Spot Instagramable

Sambil menghirup udara segar dan bersih yang langka saya rasakan di perkotaan, saya pun berjalan menuju pintu masuk yang terbuat dari papan kayu yang tertata epik. Namun, papan besar berisi informasi atraksi yang ada Hutan Pinus Kalilo menghentikan langkah saya untuk membacanya. Dari informasi itu, diketahui Hutan pinus di area Perhutani Kedu Selatan itu menawarkan spot foto yang unik dan fotogenik atau bahasa milenialnya, instagramable. Dari pintu masuk sudah ada beberapa spot foto seperti Jalan Cinta dan Rumah Hobbit. Kemudian, jika ingin berfoto di puncak bukit dengan latar panorama alam hamparan pegunungan Menoreh, pengunjung juga bisa mendaki ke Puncak Titanic bukit bebatuan yang bentuknya seperti anjungan kapal.

Tetenger Watu Tumpang di Hutan Pinus Kalilo menjadi spot unik yang menarik dikunjungi. Foto : metrojateng.com/anggun puspita.

Selain itu, di sana ada satu spot unik yang wajib dikunjungi, yakni Watu Tumpang. Konon Watu Tumpang adalah tempat meditasi untuk orang-orang yang memiliki ‘kepentingan’. Sebab, zaman dulu batu ini digunakan sebagai tempat bertapa orang pertama yang menduduki Dusun Kalilo. Adapun, keunikan batu ini karena batu kecil di bawah mampu menopang batu besar seberat 600 ton. Ajaibnya lagi batu tersebut tetap kokoh meski diguncang gempa.

Setelah naik turun bukit dan lanjut menyusuri deretan hutan pinus, kami pun mencari tahu tentang potensi objek wisata yang berada di ketinggian 700 mdpl itu melalui Pengelola Hutan Pinus Kalilo, David Priyantoro.

Pria yang juga sekretaris Karang Taruna Makarti Muktitama itu menceritakan bagaimana awal mula membangun objek wisata itu.

‘’Awalnya menemukan tempat ini tu dari Google pada tahun 2016, terus kami ngecek-ngecek dengan mendatangi lokasi. Kok, menarik ya untuk dikembangkan dan jadi wisata baru. Kemudian, kami bentuk kepanitiaan dan datang ke Perhutani untuk mencari tahu bagaimana menjadikan hutan pinus ini sebagai objek wisata,’’ tuturnya.

Dari situ, lanjut David, babat alas pun dimulai bersama 70 pemuda Desa Kalilo dengan membuka area dan membersihkan kawasan karena sebelumnya semak belukar. Lalu, dilanjut membuat jalan akses, area parkir, dan fasilitas penunjang spot foto.

Area bermain anak atau outbound yang ditawarkan pada wisatawan yang berkunjung di Hutan Pinus Kalilo. Foto : metrojateng.com/anggun puspita.

Sambil terus mengembangkan area seluas 5 hektar itu, Karang Taruna Makarti Muktitama sebagai pengelola objek wisata Hutan Pinus Kalilo juga terus melakukan promosi. Salah satunya melalui media sosial baik Facebook di alamat ‘Hutan Pinus Kalilo’ ataupun Instagram @hutanpinuskalilo. Seiring tren swafoto (selfie), nama Hutan Pinus Kalilo di Kabupaten Purworejo semakin dikenal. Apalagi, ketika wisatawan datang ke sini lalu mereka mengunggah foto dan disebarkan di media sosial. Cara itu sangat efektif untuk mengenalkan tempat ini.

Kini tingkat kunjungan wisatawan di objek wisata tersebut mencapai 6.000 orang per bulan, bahkan saat akhir pekan bisa mencapai 500 pengunjung. Adapun, mayoritas wisatawan yang berkunjung dari Kabupaten Purworejo, Kulonprogo, Bantul, Kebumen, hingga Sleman.

Pengunjung Hutan Pinus Kalilo sedang bercengkrama di antara jejeran pohon pinus. Foto : anggun puspita.

‘’Cukup dengan membayar Rp 5.000 dan parkir motor Rp 2.000 atau mobil Rp 3.000 pengunjung bisa mencoba semua atraksi dan mendapatkan berbagai pengalaman di Hutan Pinus Kalilo,’’ tuturnya.

Disamping untuk disinggahi, pengelola Hutan Pinus Kalilo juga menawarkan paket-paket lainnya seperti camping fun, wisata edukasi, eksplorasi hutan pinus, hingga prewedding. Semua dapat dimanfaatkan oleh wisatawan dengan harga terjangkau, yakni di bawah Rp 100.000.

Mencicipi Kuliner Unik Dawet Goreng

Memang rasanya tidak cukup hanya satu dua jam singgah di Hutan Pinus Kalilo. Selain menenangkan dan menenteramkan hati juga pikiran dari rutinitas harian, saat singgah ke hutan pinus tersebut, jangan sampai melewatkan kuliner khas Desa Kalilo, yaitu Dawet Goreng dan Aci Tempe. Dua penganan ini cukup unik dan lain daripada umumnya. Sebab, jika biasanya dawet adalah minuman es dari cendol berbahan tepung tapioka atau tepung beras berkuah santan dan gula jawa, di kawasan wisata Hutan Pinus Kalilo dawet berwujud kudapan.

Dawet Goreng menjadi kuliner khas yang wajib dicicipi saat singgah di Hutan Pinus Kalilo. Foto : metrojateng.com/anggun puspita.

Penjual Dawet Goreng, Klinem (47) meracik kudapan tersebut di mangkok-mangkok kecil. Dengan sendok sayur, dia mengambil cendol yang terbuat dari tepung umbi ganyong ke mangkok. Kemudian, cendol berwarna putih bening kepucatan itu disiram dengan kuah gula aren hangat bertabur bawang merah goreng. Sebagai pamungkasnya, racikan cendol dan kuah gula aren itu ditaburi sambal yang terbuat dari cabai, bawang merah, gula aren serta kelapa yang digoreng lalu dihaluskan.

Warga asli Desa Kalilo itu menuturkan, kuliner tersebut merupakan khas daerah tersebut dan sudah turun temurun dibuat oleh warga. Akan tetapi, sebelumnya dawet goreng dibuat hanya untuk konsumsi sendiri. Adapun, jika dijual untuk umum harus sesuai kalender pasaran Jawa, yaitu setiap Pon dan Legi. Namun, sejak adanya objek wisata hutan pinus dia menjualnya setiap hari kepada siapapun pengunjung yang datang.

‘’Alhamdulillah, banyak yang suka karena unik dan cocok dimakan saat cuaca dingin seperti disini, bikin anget badan,’’ tutur warga asli Desa Kalilo itu.

Seporsi Dawet Goreng sangat terjangkau, yaitu hanya perlu ditebus dengan Rp 3.000. Sedangkan, camilan sebagai teman menyantap Dawet Goreng ada Aci Tempe, yakni gorengan aci dari tepung tapioca yang berisi irisan tempe.

Masih dalam rangkaian mengeksplorasi potensi wisata Kabupaten Purworejo, setelah dari Hutan Pinus Kalilo kami juga singgah ke Gua Seplawan. Wisata alam yang berada di perut bumi ini tak kalah mengagumkan. Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk menuju ke Gua Seplawan dari Hutan Pinus Kalilo. Sebab, wisata ini masih berada di Kecamatan Kaligesing, tepatnya di Desa Donorejo.

Menyusuri Keindahan Perut Bumi di Gua Seplawan

Dari lokasi parkir kendaraan tidak tampak bahwa tempat tersebut adalah objek wisata. Hanya ada papan yang menunjukkan arah ke gua. Untuk masuk ke mulut gua, pengunjung harus berjalan kira-kira berjalan 500 meter dan harus melewati anak tangga yang berliku.

Menurut pengelola Gua Seplawan, Kelik, gua yang berada di kawasan Pegunungan Menoreh itu merupakan gua basah, sebab terdapat aliran air didalamnya. Keindahan alam otentik terlihat dari stalaktit dan stalakmit yang terbentuk alami.

Keindahan pemandangan perut bumi di Gua Seplawan Kabupaten Purworejo. Foto : metrojateng.com/anggun puspita.

‘’Meski terbentuk oleh alam, tapi keberadaan gua ini mengandung cerita sejarah. Dulu, tepatnya tanggal 15 Agustus 1979 di sini ditemukan arca emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati senilai 22 karat dengan tinggi 9 sentimeter dan berat 2,5 kilogram. Berdasarkan informasi, arca tersebut merupakan peninggalan Hindu Siwa,’’ katanya.

Saat ini arca tersebut ditempatkan di Museum Nasional sebagai benda bersejarah. Selain itu, di sana juga pernah ditemukan lingga yoni. Cerita itu semakin membuat kami mengagumi Gua Seplawan.

Adapun, selain dapat melakukan susur gua sepanjang 750 meter, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan pegunungan Menoreh, Kota Magelang, Yogyakarta dan lima gunung yang mendekap objek wisata di Kabupaten Purworejo itu melalui gardu pandang.

Untuk mengunjungi Gua Seplawan, wisatawan dapat berkunjung mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Cukup dengan merogoh kocek Rp 5.000 wisatawan dijamin tidak menyesal pernah singgah di tempat tersebut.

Melihat potensi wisata di Kabupaten Purworejo tersebut mendorong Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Tengah untuk turut terlibat dalam pengembangan ke depan.

Jaga Stabilitas Ekonomi Melalui Sektor Pariwisata

Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Ignatius Adhi Nugroho menyampaikan, upaya tersebut merupakan bagian tugas dari Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai rupiah terhadap dolar AS.

‘’Hal itu kami terjemahkan dengan turut menggarap sektor pariwisata, khususnya di Jawa Tengah. Sebelumnya, Bank Indonesia sudah terlibat dalam pengembangan pariwisata di Desa Wisata Candirejo di kawasan Candi Borobudur, Dataran Tinggi Dieng, dan Kepulauan Karimunjawa. Tahun ini giliran potensi wisata di Kabupaten Purworejo yang akan kami garap,’’ jelasnya.

Adapun, objek wisata yang fokus akan dikembangkan adalah Hutan Pinus Kalilo dan Gua Seplawan. Sesuai rencana, pada tahap awal Bank Indonesia akan mendukung pembangunan fasilitas seperti toilet dan musala. Ke depan, jika komitmen pengelola dan warga di kawasan objek wisata bagus, dukungan akan terus dilakukan seperti pengembangan atraksi wisata hingga membantu promosi ke luar agak wisatawan semakin banyak datang ke lokasi tersebut.

‘’Kami berharap program pembangunan bedah Menoreh yang menghubungkan Kulonprogo dengan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur akan berdampak pada Kabupaten Purworejo, khususnya peningkatan kunjungan wisata ke objek wisata seperti Hutan Pinus Kalilo dan Gua Seplawan,’’ tandasnya. (Anggun Puspita)

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.