Meneladani Sifat Baik Lewat Ziarah ke Makam Wali

Tradisi Syawalan Kaliwungu

Tradisi ini awalnya hanya peringatan wafatnya para ulama dan wali yang menyebarkan agama Islam di pesisir pulau Jawa

KENDAL – Komplek makam wali dan ulama di Kaliwungu Kendal menjadi tujuan utama ribuan warga dari berbagai kota untuk berziarah dalam tradisi syawalan. Ribuan warga dari berbagai daerah  ini berharap  berkah  dan meneladani wali serta guru, yang menyebarkan agama islam di Pantura. Selain berziarah, tradisi syawalan ini juga sebagai wahana mengenal perkembangan Islam melalui wisata religi di sekitar komplek makam ini.

Bupati Kendal Mirna Annisa memotong pita sebagai tanda tradisi syawalan Kaliwungu dimulai Senin (10/06) sore. Foto: metrojateng/edi prayitno

Tradisi yang setiap tahun dilaksanakan warga Kaliwungu Kendal usai merayakan Idul Fitri adalah syawalan. Tradisi ini awalnya hanya peringatan wafatnya para ulama dan wali yang menyebarkan agama Islam di pesisir pulau Jawa khususnya Kendal.

Tradisi dan budaya Islam jawa sebagai penghormatan kepada makam-makam orang suci, baik ulama atau kyai ini terus dikembangkan dan dijadikan wisata religi.

Ribuan warga dari berbagai daerah di sekitar Kaliwungu memanjatkan doa di depan makan Kyai Asy’ari atau yang dikenal dengan Kyai Guru serta makan ulama lainnya seperti Sunan Katong dan Wali Musyafa. Tradisi tahunan ini awalnya hanya  kegiatan ziarah mengirim doa di makam Kyai Asy’ari yang  dilakukan oleh keluarga dan keturunannya.

Namun ramainya keluarga yang berziarah diikuti warga dan hingga sekarang selalu ramai dikunjungi untuk memanjatkan doa. Warga rela berjalan kaki lima kilometer menaiki bukit menuju komplek makam aulia Kaliwungu. Di komplek makam Kyai Asyari pendiri masjid besar Al Mutaqqin Kaliwungu ribuan peziarah ini rela berdesakan dan menunggu giliran masuk ke komplek makam.

Bagi yang tidak ingin berdesakan warga rela duduk di luar komplek makam dan memanjatkan doa. Bupati Kendal Mirna Annisa mengatakan  mendatangi makam-makam para wali dan ulama ini untuk menghormati serta mengharapkan berkah.

“Warga biasanya datang secara rombongan dan memanjatkan doa di makam kyai guru yang mendirikan masjid Al Mutaqqin Kaliwungu . Tradisi syawalan di Kaliwungu ini dijadikan agenda tahunan dan akan dikembangkan menjadi wisata religi,” katanya.

Bupati juga berharap syawalan kali ini umat Islam bisa belajar bertoleransi. Objek lokasi ziarah kini melebar bukan hanya kepada makam Kyai Asy’ari tetapi juga ke makam Sunan Katong, Pangeran Mandurarejo, Makam Kyai Mustofa, Kyai Musyafa  dan Kyai Rukyat. “Namun dari sejumlah makam aulia Kaliwungu yang selalu menjadi pusat keramaian untuk berziarah adalah makam Sunan Katong dan Kyai Guru,” jelas  Jumarno, Kades Protomulyo.

Dikataklan duapetilasan ini menjadi tujuan utama warga yang akan memanjatkan doa sehingga wajar jika di dua tempat tersebut warga berdesak-desakan berebut ingin masuk ke dalam makam.

Rini Utami misalnya pegawai negeri sipil ini rela meluangkan waktu usai pulang kerja untuk berziarah ke makam-makam di komplem makam jabal kaliwungu. “Setiap tahun rutin berziarah untuk mendoakan pendahulu dan meneladani apa yang sudah diajarkan wali-wali penyebar agama Islam di Kendal,” ujarnya.

Tradisi Syawalan di Kaliwungu ini semakin ramai dan meriah dengan banyaknya pedagang tiban yang menggelar dagangan di komplek makam dan alun-alun Kaliwungu. (ADV)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.