Memukau dalam Balutan Busana Limbah Perlengkapan Hotel

Unsur gaya dan karakter desain yang kuat mendominasi, sehingga membuat orang tidak lagi melihat dari mana bahan bermula.

LIMBAH sampah kertas, daun, atau plastik mungkin sudah umum untuk didaur ulang. Namun, apa jadinya jika ada tumpukan limbah dari perlengkapan hotel yang terbuat dari kain semacam seprai, handuk, seragam, tirai dan lainnya. Apakah barang yang sudah tidak terpakai itu masih memiliki nilai untuk dimanfaatkan kembali?

Para model memperagakan busana rancangan para siswa sekolah mode Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo yang terbuat dari limbah perlengkapan hotel di Sofitel Hotel Nusa Dua Bali, Sabtu (23/3/2019). Foto: metrojateng.com/dok Istimewa

Pertanyaan itu dijawab oleh para siswa sekolah mode Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo. Mereka menjawab tantangan dari grup multinasional jaringan hotel, resor, dan properti vakansi untuk mengolah limbah-limbah kain tersebut menjadi berbagai jenis busana melalui program Linens for Life.

Sebanyak 70 set busana dikreasikan oleh mereka dan ditampilkan dalam peragaan busana di Sofitel Hotel Nusa Dua Bali, Sabtu (23/3/2019). Seperti busana karya Vidya yang berjudul Inspiring Sunset. Limbah kain seprai disulap menjadi padu padan lima set busana yang terdiri atas celana 7/8 dengan blus dan rok flowy asimetris lebar.

Debur ombak dan hangatnya mentari sore di pantai Bali pun menginspirasi dalam pembuatan busana. Warna oranye, biru langit, dan kuning dari teknik celup (tie dye) yang menjadi motif berpola shibori (ikat celup), suminagashi (lukis celup) dan ombra (celup bergradasi) berhasil menghilangkan karakter seprai yang lusuh.

Karya busana lain yang tak kalah kreatif tercipta dari tangan terampil Luh Wina Sadevi yang membuat gaun cocktail tanpa lengan berkerah sabrina berwarna mustard hasil pencelupan dari kain seprai. Pada gaun tersebut di bagian bahu hingga pinggang secara horisontal dipermanis dengan aplikasi embroidery hasil jahit tangan.

Sedangkan, Yulia Tori menciptakan busana olahraga dengan tema After Sport. Dia memanfaatkan bekas seprai dan handuk untuk membuat busana tersebut melalui teknik pencelupan dan dipadankan dengan spandex sebagai bahan khas olahraga agar terkesan sportif.

Unsur gaya dan karakter desain yang kuat mendominasi, sehingga membuat orang tidak lagi melihat dari mana bahan bermula. Siapa sangka jika dari selembar bahan bekas dapat tercipta beragam busana mulai busana santai, pakaian olahraga, gaun malam, bahkan winter coat.

Pimpinan sekolah mode, Susan Budihardjo mengatakan, bagi pihaknya menjadikan limbah sebagai bahan dasar mencipta baju adalah tantangan, karena hasil karya busana tersebut harus mampu membuat orang merasa gaya.

“Selain kreativitas, unsur higienis juga kami perhitungkan. Penggodokan ulang dan pencelupan warna diterapkan untuk membuang rasa tidak nyaman saat mengenakan bahan bekas,” tuturnya.

Sementara itu, tidak hanya siswa yang diberdayakan, tenaga pengajar sekolah mode tersebut juga mengajari kelompok ibu-ibu berpendapatan rendah untuk memproduksi benda bermanfaat dan berdaya jual demi menambah penghasilan dari limbah perlengkapan hotel. (Anggun Puspita)

Ucapan Lebaran 1440

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.