Membumikan Tari Gambang Semarang di Era Milenial

Harapannya muncul lagi komunitas gambang sebagai identitas Kota Semarang.

BERAWAL dari keresahan melihat eksistensi tari Gambang Semarang yang memudar, sejumlah pegiat budaya menggelar rangkaian diskusi bebas untuk menguak seluk-beluk potensi gerak tarian tersebut.

Membumikan Tari Gambang Semarang di Era Milenial
Sejumlah anak muda saat memainkan lagu Gambang Semarang di Gedung Sejarah FIB Undip, Tembalang. Foto: metrojateng.com/fariz fardianto

Anantaka, sebuah lembaga yang bergerak di bidang budaya menginisiasi kegiatan diskusi dengan melibatkan para pelopor komunitas Gambang Semarang yang ada di Ibukota Jateng.

Johanys Adityawan, Sekretaris Anantaka mengatakan, dirinya ingin menggali potensi tari Gambang Semarang yang selama ini dikembangkan oleh tiga komunitas lokal.

“Tentang bagaimana ada beragam pakem tarian yang muncul dengan prosesnya yang berbeda. Dan bagaimana saja pakemnya. Itu yang akan kita gali mendalam lagi sebagai ikon budaya Kota Semarang,” kata Johanys, Minggu (29/7).

BACA JUGA: Ternyata Tari Semarangan Terinspirasi dari Gerakan Waria

Ia mengaku penggalian potensi ini perlu dilakukan untuk mengedukasi masyarakat seperti apa saja keunikan tarian Gambang yang ada selama ini.

Ia bahkan sengaja menghadirkan tiga pencetus komunitas Gambang Semarang yakni Danang Respati dari GSAC, Dewi Yuli dari KGS dan Grace Santoso dari Nang Nok sebagai pemantik diskusi yang mengupas keunikan tarian Gambang Semarang.

“Sudah tiga kali diskusi dan puncaknya 15 Agustus nanti di Oudetrap Kota Lama,” katanya.

Ia pun mendorong kepada tiga komunitas itu untuk berani keluar dari pakem dalam mengembangkan tari Gambang Semarang. Selain itu, ketiganya juga harus mengajak anak muda untuk mengeksplorasi seni gerak dan lagunya agar dapat disebarluaskan kepada masyarakat lokal.

“Kesenian ini akan terus hidup dengan mengembangkan pola tariannya. Dari tari dan lagu sangat mungkin digali lagi. Harapannya muncul lagi komunitas gambang sebagai identitas Kota Semarang. Kita sedang mencari benang merahnya untuk digaungkan kepada masyarakat luas,” cetusnya.

Budaya Tionghoa

Tari Gambang Semarang sendiri sudah ada sejak dekade 1960 silam. Mula-mula tarian tersebut muncul secara sporadis di pertunjukan budaya Tionghoa.

BACA JUGA: Meiricho dan Fitria Terpilih jadi Denok Kenang Semarang 2018

Bintang Hanggoro Putro kemudian mengembangkan tarian Gambang dengan menciptakan tarian Denok pada 1971. Johanys bilang, Bintang Hanggoro juga punya jasa penting dalam menerapkan pakem-pakem gerak tari Gambang.

“Makanya Pak Bintang sudah kita hadirkan untuk berdiskusi bersama Pak Jongkie Tio untuk membahas seperti apalagi supaya Gambang Semarang bisa digaungkan ditengah masyarakat,” katanya.

Sedangkan bagi Grace W Susanto, pelopor komunitas Nang-Nok, tari Gambang Semarang kurang mengena di hati warga lantaran terganjal kultur budaya yang berbeda bila dibanding Yogyakarta maupun Solo.

Semarang sebagai kota jasa dan perdagangan, menurutnya tampak sulit mengembangkan tarian ini.

“Beda dengan Yogyakarta yang memang kultur budayanya sangat kental. Semarang ini kan basisnya jasa. Maka rasa-rasanya warganya seperti enggan mempromosikan tariannya sendiri. Faktor penyebabnya tentu gerak tarinya yang membosankan. Nah, nantinya kita coba berinovasi dengan perkembangan budaya kekinian biar anak-anak muda ini mau menerima dan pede mempertontonkanya di ruang publik,” papar Grace. (far)

Foto: Sejumlah anak muda saat memain

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.