Membuang Kebodohan dengan Ritual Mahesa Lawung

Upacara adat Mahesa Lawung ditandai dengan penanaman kepala kerbau di Hutan Krendawahono.

SOLO – Mahesa Lawung merupakan salah satu upacara adat Keraton Kasusnanan Surakarta yang digelar setiap bulan Rabiulakhir atau bulan keempat dalam kalender Hijriah. Upacara adat ini dilaksanakan di hutan Krendawahono, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Upacara Mahesa Lawung di Keraton Surakarta, Senin (7/1/2019). Foto: metrojateng.com

Upacara adat ini telah digelar sejak masa Raja Surakarta Hadiningrat Paku Buwana II yang mengganti nama Desa Sala menjadi Nagari Surakarta Hadiningrat pada tahun 1670. Pada saat itu, Sang Raja menggelar upacara adat Mahesa Lawung setelah 100 hari pergantian nama, bermaksud untuk mendapatkan berkah dan keselamatan.

Upacara adat Mahesa Lawung ditandai dengan penanaman kepala kerbau di Hutan Krendawahono. Sebelum ditanam kepala kerbau tersebut dikirab dari Ndalem Gondorasan menuju Siti Hinggil Keraton Surakarta oleh para abdi dalem.

Pengageng Pariwisata Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Pangeran Satiro Hadinagoro menjelaskan dalam upacara adat yang ditandai dengan menanam kepala kerbau tersebut memiliki filosofi yakni membuang kebodohan.

Upacara Mahesa Lawung menjadi simbol membuang kebodohan. Foto: metrojateng.com

“Kerbau ini filsafah Jawa ya, ada ungkapan lengga lenggo koyo kebo, ini kan simbol kebodohan dan harus dihilangkan dengan cara dikubur,” ujar Satrio saat ditemui di sela-sela acara Mahesa Lawung, di Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, Senin (7/1/2019).

Sejumlah sesaji seperti ayam, jajanan pasar, daging kerbau dan nasi kabuli juga diarak bersama-sama dengan kepala kerbau. Namun sesaji tersebut dibagikan kepada abdi dalem, setelah didoakan. Upacara adat Mahesa Lawung juga sebagai permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu melimpahkan keselamatan bagi keraton. (MJ-25)

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.