Membidik Peluang Surplus Neraca Perdagangan

Oleh : Eko Suharto, S.ST, M.Si (Statistisi Pada BPS Provinsi Jawa Tengah)

 

NERACA Perdagangan Jawa Tengah Desember 2020 kembali mencatatkan surplus. Nilai 794,54 juta dolar AS merupakan capaian tertinggi ekspor periode pandemi. Dibanding nilai impor sebesar 770,94 juta dolar AS, maka surplus mencapai 23,60 juta dolar AS. Ini seolah menjadi kabar gembira saat catatan rekor positif Covid-19 tambah hari mengalami kenaikan.

Rilis BRS BPS Provinsi Jawa Tengah juga menunjukan defisit neraca perdagangan 2020 mengecil. Nilai defisit  -626,42 juta dolar AS jauh lebih rendah dibanding periode 2019 yang mencapai -4 050,92  juta dolar AS. Namun demikian perlu hati hati menyikapi angka-angka ini. Tidak berarti terjadi perubahan fundamental pada perekonomian Jawa Tengah. Ada sesuatu balik fenomena tersebut. Terlebih kondisi perekonomian tengah mengalami kontraksi akibat pandemi. 

Belum Membaik

Covid-19 membuat kinerja perdagangan internasional Jawa Tengah menurun. Kinerja ekspor selama 2020 mengalami penurunan sebesar 4,97 persen dibanding 2019. Kondisi ini terjadi karena permintaan global yang tengah menurun. Beberapa negara tujuan ekspor memberlakukan pembatasan sosial bahkan lockdown demi mencegah meluasnya pandemi. Akibatnya konsumsi masyarakat menurun tajam dan berimbas kurangnya transaksi perdagangan.

Seiring penurunan ekspor selama 2020, menjadi aneh ketika defisit neraca perdagangan mengecil. Ternyata impor mengalami kontraksi lebih dalam dengan penurunan 30,62 persen dibandingkan periode sebelumnya. Rendahnya defisit neraca perdagangan terjadi karena penurunan nilai impor. Surplus perdagangan pada beberapa bulan di tahun 2020 juga diakibatkan rendahnya nilai impor. Dinamika ini yang perlu diwaspadai. 

Impor Jawa Tengah menurut penggunaan barang didominasi bahan baku dan penolong dengan persentase lebih dari 80 persen. Bahan tersebut dibutuhkan sektor industri untuk berproduksi. Jika kebutuhan bahan baku dan penolong turun artinya kegiatan industri Jawa Tengah juga menurun. Padahal sektor industri merupakan penyumbang terbesar porsi tenaga kerja setelah pertanian. Implikasinya nilai konsumsi rumah tangga juga menurun karena berkurangnya jumlah orang bekerja.

Memang impor yang terlalu besar membuat defisit neraca perdagangan juga membesar. Namun kinerja impor tidak boleh terlalu jatuh. Mengingat kebutuhan bahan baku dan penolong penting untuk keberlangsungan produksi. Pergerakan produksi menandakan kegiatan perekonomian mulai berjalan. Sekaligus sebagai indikator bahwa konsumsi rumah tangga juga bergerak naik.

Konsekuensi membesarnya defisit neraca perdagangan dipandang sebagai peluang baru. Jika memperhatikan komposisi impor Jawa Tengah, besaran impor migas menyumbang 24,71 persen. Nilai ini turun jika dibandingkan periode 2019 yang mencapai 31,08 persen. Meskipun belum besar penurunannya, ini bukti perubahan kebijakan dari energi fosil menjadi energi terbarukan. Energi listrik dan bahan bakar nabati dapat menjadi solusi untuk menekan besaran impor migas Jawa Tengah.

 

Membuka Peluang

Pangsa pasar ekspor Jawa Tengah selama ini masih bertumpu pada negara tertentu saja. Tiga negara tujuan ekspor non migas terbesar tidak pernah berubah yaitu Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok. Komposisinya selalu di atas 50 persen. Kondisi ini menunjukan diversifikasi ekspor ke pasar non tradisional belum berjalan. Bahkan peran 13 negara utama tujuan ekspor makin meningkat pada 2020. Diperlukan keberanian untuk membuka pasar ekspor baru ke negara yang selama ini belum tersentuh ekspor Jawa Tengah.

Upaya membuka pasar ekspor baru tidak hanya dilakukan oleh Jawa Tengah. Hampir semua negara menerapkan diversifikasi tujuan ekspor. Untuk menarik minat, produk yang ditawarkan harus menarik dan memiliki keunggulan. Diversifikasi produk ekspor memegang peranan penting. Kreasi dan inovasi produk baru diperlukan untuk menarik minat negara lain mengimpor barang asal Jawa Tengah.

Hausmann & Rodrik (2003) mengemukakan investasi dalam aktivitas baru akan menghasilkan produk baru yang inovatif. Imbasnya produk ekspor lebih banyak dan bervariasi. Diversifikasi produk akan menciptakan perekonomian yang lebih elastis. Selama ini, produk ekspor Jawa Tengah mengandalkan tekstil, produk kayu dan furnitur. Kecepatan merespon perubahan model, warna dan keinginan konsumen sangat penting. Standar proses produksi dan produk berkualitas tinggi wajib dipenuhi agar tidak ditinggalkan pembeli.(*)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.