Melangitkan Doa, Umat Lintas Agama Refleksikan Penembakan di Selandia Baru

Ini menjadi aksi solidaritas dan refleksi yang mengetuk hati sesama umat manusia untuk peka terhadap sebuah tragedi kemanusiaan.

Puluhan umat lintas iman berswafoto usai memanjatkan doa bagi korban penembakan Selandia Baru di Gereja Katedral Semarang. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

 

SEMARANG – Malam kian larut. Detak jarum jam menunjukan pukul 20.00 WIB. Tapi hiruk pikuk masih terasa di pelataran Gereja Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Jalan Pandanaran, Randusari, Semarang, Minggu (17/3/2019).

Dengan menyalakan sebatang lilin, puluhan orang datang ke halaman gereja untuk melangitkan doa bersama. Mereka datang dari lintas agama, mulai dari unsur Umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu serta tak ketinggalan dari penghayat Sapta Dharma.

Kepala Pastoran Johannes Maria, Unika Soegijapranata, Romo Aloysius Budi Purnomo yang hadir dalam doa bersama, mengatakan lantunan doa-doa dipanjatkan sebagai rasa solidaritas bagi para korban insiden penembakan yang terjadi di Selandia Baru.

Romo Budi sapaannya, mengatakan bahwa ini menjadi aksi solidaritas dan refleksi yang mengetuk hati sesama umat manusia untuk peka terhadap sebuah tragedi kemanusiaan.

“Kepekaan itu diungkapkan lewat suatu refleksi, kami berdoa bersama bukan melulu sebagai suatu reaksi karena sikap reaktif tidak akan pernah konstruktif. Tetapi kami berdoa bersama bergandengan tangan agar bisa menjadi benteng untuk kebaikan dalam melawan kekerasan di manapun berada,” kata Romo Budi, Minggu (17/3/2019).

Doa bersama kemudian dimulai dari perwakilan para pemuka agama yang hadir. Selama sejam, mereka bergantian berdoa dan diselingi membaca puisi.

Romo Budi menganggap doa yang dipanjatkan oleh para pemuka agama menjadi pemersatu bangsa. Menurutnya, perbedaan bukan sebuah perpecahan.

Sedangkan bagi Bethari Imashinta, seorang pelajar yang hadir dalam malam renungan tersebut ingin menunjukan bila tali persaudaraan yang terjalin antar umat lintas iman di Semarang begitu erat.

Sebuah rasa kemanusiaan akan muncul meski masing-masing orang beda agama.

“Kami ingin menyatukan rasa kemanusiaan walaupun berbeda agama, ini Indonesia satu rasa satu tujuan. Kami juga merefleksikan lewat puisi tentang bagaimana ada bencana yang melibatkan latar belakang lintas agama,” katanya. (far)

 

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.