Mau Merintis Desa Wisata? Ini Syarat-Syaratnya

Pokdarwis harus bisa mengeksplorasi produk wisata yang unik berbasis kearifan lokal dengan memberdayakan masyarakat.

Desa Wisata Candirejo Magelang Jawa Tengah. (dokumentasi metrojateng.com)

 

SEMARANG – Untuk merintis menjadi desa wisata, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang ada di sebuah desa/kelurahan harus memiliki visi dalam membuat produk wisata. Produk tersebut harus yang unik dan berbasis kearifan lokal.

Motivator sekaligus dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Eko Suseno Matrutty menuturkan, selain visi, Pokdarwis juga harus melibatkan warga sekitar sebagai wujud pemberdayaan ekonomi untuk mendukung kesejahteraan warga tersebut.

‘’Pokdarwis harus lebih dulu memetakan potensi dan usaha-usaha yang menunjang kepariwisataan. Lreativitas dan keunikan akan menjadi kunci pembeda agar wisatawan mau berkunjung ke desa wisata,’’ katanya saat memberikan paparan dalam rintisan desa wisata Kelurahan Mangunharjo, Tembalang, Kota Semarang, Rabu (27/2/2019) kemarin.

Dalam acara yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang itu, Eko Suseno menjelaskan, keberadaan daya tarik wisata, cinderamata, kuliner hingga guide atau pemandu wisata juga menjadi syarat mutlak menuju rintisan desa wisata.

Daya tarik wisata dapat diartikan sebagai potensi keindahan alam, budaya, atau kehidupan sosial masyarakat setempat. Selain itu, menurutnya perlu dipertimbangkan pula keberadaan homestay, akses transportasi, foto, keamanan hingga kebersihan toilet.

Untuk homestay, Eko Suseno berharap warga tidak perlu terburu-buru membuatnya, jika memang belum menyiapkan paket-paket wisata yang komplit.

‘’Homestay itu kan artinya wisatawannya harus menginap. Artinya paket yang dijual juga harus sehari semalam, nah selama waktu itu wisatawan mau diajak apa dan bagaimana, jangan cuma tiduran di homestay,’’ terangnya.

Ditambahkan, Pokdarwis juga diharapkan mampu menghadirkan keunggulan komparatif dan kompetitif. Dengan demikian mereka bisa terus memunculkan produk-produk dan jasa yang kreatif. Hal ini penting karena pertumbuhan desa wisata dewasa ini cukup menjamur.

‘’Untuk penyusunan paket wisata, sebaiknya mencakup transportasi, oleh-oleh hingga cinderamata yang dapat dibawa pulang pengunjung. Paket-paket wisata ini dapat diubah atau tetap, disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Tapi yang ikonik dan bisa jadi penanda sebaiknya jangan diubah,’’ pungkasnya. (duh)

 

 

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.