Masyarakat Cuek, Parkir Liar Kian Merebak

SEMARANG – Pascapeluncuran BRT Trans Semarang koridor VII, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan masih ada persoalan terkait dengan upaya untuk mengatasi permasalahan kemacetan lalu lintas di Kota Semarang.

Penertiban parkir di Simpang Lima, Semarang, beberapa waktu lalu. Foto: metrojateng.com/dok

‘’Berdasarkan sebuah survei, kemacetan di Kota Semarang ini menempati peringkat ke-9 di Indonesia, perlu antisipasi dan upaya untuk mengatasi hal ini,’’ kata Wali Kota, Rabu (16/5).

Permasalahan tersebut, yaitu harus ditumbuhkannya kesadaran dari masyarakat untuk tidak memakirkan kendaraannya sembarangan atau di tempat yang dilarang. Dan mau beralih dari mengunakan kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Menurutnya, masyarakat tidak berdisplin dalam memarkirkan kendaraan, namun ketika ada terjadi kemacetan pemerintah yang disebut tidak becus dalam mengatur lalu lintas.

‘’Kita melihat masyarakat masih harus ditumbuhkan kesadarannya, yaitu jangan parkir sembarangan. Kita lihat kalau malam minggu atau sore hari di Simpang Lima isinya motor semua. Tinggal jalan 30 meter saja membawa motornya masuk tempat parkir (resmi) kok susah, masyarakat cari gampangnya,’’ terangnya.

Menurut Wali Kota yang akrab disapa Hendi ini, cukup banyak sekali persoalan yang menyebabkan permasalahan kemacetan. Namun utamanya adalah jumlah kendaraan milik pribadi yang lebih besar dibandingkan kapasitas jalan.

Maka itu, menurutnya Pemerintah Kota Semarang telah melakukan berbagai upaya mengatasi di antaranya pelebaran jalan. Pelebaran jalan membutuhkan investasi yang cukup besar termasuk untuk pembebasan lahan warga yang tidak mudah dilakukan.

Pemerintah kota juga telah melakukan rekayasa lalu lintas dengan menerapkan sistem satu arah di beberapa ruas jalan protkol. Kemudian pemerintah juga telah melakukan rekayasa teknis dengan misalnya membangun Flyover dan Underpass.

Namun yang paling penting dari semuanya itu, Hendi menegaskan, adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat. Dia menyatakan, masyarakat harus tertib memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang disediakan, dan harus dipaksa untuk mau beralih dari menggunakan kendaraan pribadi ke angkutan umum.

‘’Caranya harus disediakan transportasi umum yang murah, nyaman, dan bisa mengakses kebutuhan masyarakat dari ujung timur ke barat dan dari utara ke selatan. Solusinya kita sudah sediakan BRT Trans Semarang,’’ katanya.

Hendi menegaskan, paling penting persoalan kemacetan tidak akan selesai kalau hanya diupayakan oleh pemerintah saja. Karenanya semuanya termasuk masyarakat harus ikut secara nyata mengatasi persoalan kemacetan.

‘’Semuanya harus mencintai dan bangga sebagai warga Semarang. Parkir jauh tidak apa-apa yang penting tidak macet, mau menggunakan BRT daripada kendaraan pribadi. Kalau itu bisa dilakukan insyaAllah problem kemacetan tuntas,’’ tegasnya. (duh)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

59 − 50 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.