Manulife Dorong Perusahaan di Jateng Ikut Program Dana Pensiun

Pentingnya perencanaan dana pensiun bagi perusahaan atau pemberi kerja itu mengacu pada kebijakan pemerintah.

SEMARANG-Manulife Indonesia mendorong perusahaan di Jawa Tengah untuk mengikutkan karyawannya dalam program dana pensiun. Ke depan upaya itu akan memberikan manfaat tidak hanya kepada pemberi kerja tetapi juga pekerja di sana.


Sebanyak 20 perusahaan di Jawa Tengah mengikuti sosialisasi mengenai pentingnya perencanaan dana pensiun bagi perusahaan atau pemberi kerja yang diselenggarakan Manulife Indonesia di Hotel Gumaya Semarang, Selasa (18/9/2018). Foto: metrojateng.com/Anggun Puspita

Pentingnya perencanaan dana pensiun bagi perusahaan atau pemberi kerja itu mengacu pada kebijakan pemerintah sebagaimana Pasal 167 Undang-Undang Ketenagakerjaan 13/2003 berisi program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Direktur and Chief Employee Benefits Manulife Indonesia, Karjadi Pranoto mengatakan, untuk itu pihaknya ingin menggarap pasar Jawa Tengah khususnya di Semarang dan Solo.

“Kami mengundang perusahaan di Semarang untuk mengedukasi tentang pentingnya dana pensiun bagi pekerja,” ungkapnya saat sosialisasi perencanaan dana pensiun kepada perwakilan perusahaan di Hotel Gumaya Semarang, Kota Semarang, Selasa (18/9/2018).

Alasan Manulife menggarap Jateng karena banyak industri yang beroperasional di provinsi tersebut. Jateng, kata Prantoto, saat ini mengalami pertumbuhan ekonomi cukup baik. Indikatornya, dapat dilihat dengan banyaknya perusahaan di Jateng, maka peluang itu kami tangkap untuk menjaring peserta program dana pensiun dan meningkatkan aset kelolaan Manulife.

Diketahui saat ini di Jateng sudah ada ratusan perusahaan yang tergabung dengan Manulife. Rata-rata perusahaan yang bergabung sudah sadar akan pentingnya menghimpun dana pensiun untuk masa tua yang lebih baik.

Karjadi menjelaskan, di Jawa Tengah untuk perusahaan yang sudah mengikuti program dana pensiun Manulife terdiri atas beberapa sektor seperti manufaktur sebesar 23 persen, perbankan 23 persen, rumah sakit 15 persen, media dan percetakan 8 persen. (ang)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.