Mantan Sekcam Tipu Calon PNS untuk Modal ‘Nyaleg’

Praktik ilegaI itu hanya modus tersangka mendapatkan uang untuk modal mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif.

MAGELANG – Tim Reskrim Polres Magelang membongkar praktik penipuan berkedok perekrutan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Sedikitnya enam orang menjadi korban dengan kerugian hingga puluhan juta.

Tersangka penipuan berkedok perekrutan CPNS. Foto: metrojateng.com/ch kurniawati

Tersangka bernama Abudhari Tri Putro (64) mantan sekretaris kecamatan (sekcam) di wilayah Kabupaten Magelang. Para korban masing-masing di minta untuk membayar Rp 60-85 juta.

Belakangan diketahui bahwa praktik ilegaI itu hanya modus tersangka mendapatkan uang untuk modal mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif.

Kapolres Magelang AKBP Yudianto Adhi Nugroho mengatakan, tersangka menebar janjinya sejak tahun 2012. Namun hingga 2019,  janji itu tidak pernah terealisasi. Merasa tertipu, salah satu korban, Supriyono, warga Cilacap Utara, melaporkan hal itu  ke Polsek Salaman, pada 1 Januari 2019, lalu.

Polisi segera menindaklanjuti laporan tersebut dan menangkap tersangka yang saat itu berada di rumahnya, di Dusun Bogoran Desa Trirenggo Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul.

Kepada petugas,tersangka mengakui semua perbuatannya. Ia meyakinkan korban kalau bisa memasukkan mereka menjadi PNS di wilayah Jateng, asal membayar sejumlah uang.

“Saya semula hanya bilang ke satu orang, kemudian orang itu memberitahukan kepada orang lain dan akhirnya ada 6 orang,” ujarnya dalam gelar perkara di Mapolres Magelang, Selasa (16/7/2019).

Untuk lebih meyakinkan, para korban juga diminta untuk membeli seragam Korpri. Mereka juga diminta untuk mengumpulkan berkas-berkas administrasi. Setelah berkas terkumpul, oleh tersangka dikirim ke kantor BKN pusat.

“Saya ingin mendapat uang dengan cara cepat untuk modal ‘nyaleg”. Pikir saya, kalau nantinya jadi anggota DPRD, maka uang mereka bisa saya ganti,” ujarnya.

Atas perbuatannya, tersangka terancam hukuman maksimal 4 tahun penjara. Tersangka dianggap melanggar pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP. Polisi juga menyita beberapa barang bukti seperti kuaitansi, bukti transfer, buku tabungan, HP dan sejumlah pakaian seragam Korpri. (MJ-24)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.