Mahasiswa Unwahas Kembangkan Aquabisnis Udang Red Rilly

Permintaan udang hias tidak hanya datang dari pasar lokal, tetapi sudah diminati pasar ekspor, seperti Jepang, Thailand, Singapura dan Jerman.

SEMARANG – Tim Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) K dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) yang terdiri dari tiga Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dan Ilmu Politik, yaitu Laili Nur Indah Sari, Fuad Dzakiya Iffa al Rosyada dan Fitria Nur Hasanah Ari Kartikawati mengembangkan Aquabisnis Udang Hias Red Rilly.

Lokasi pembudidayaan Red Rilly di rumah Laili Nur Indah Sari, Jalan Tanggul Asri RT 7, RW 02, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Foto: dokumentasi

Udang jenis Crystal Red Shrimp atau lebih dikenal Red Rilly, Red Fair, dan Red Cherry ini paling diminati di pasaran karena keindahannya. Udang hias ini dapat disilangkan dengan jenis udang neocaridina warna lain.

Udang Red Rilly memiliki ukuran sekitar 3 cm, semakin kecil ukuran udang Red Rilly semakin mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Udang ini sama dengan jenis udang lain, saat ukuran tertentu akan mengganti kulit. Fungsi ganti kulit pada udang bertujuan untuk memperbesar ukuran tubuh dan beradaptasi pada lingkungan airnya.

“Alasan pemilihan Red Rilly dikarenakan udang ini sedang menjadi tren. Terlebih lagi, udang ini bisa hidup di air tawar sehingga membuat peternak ikan hias air tawar tertarik membudidayakannya. Dengan Cara Penanganan Ikan Yang Baik (CPIB) diharapkan kualitasnya bisa terjaga. Sekali bertelur, Red Rilly dapat menghasilkan telur sampai 20 ekor anakan,” papar ketua Tim, Laili.

Jenis Udang ini pertama kali dipopulerkan oleh peternak asal Taiwan sekitar 2010 silam. Udang hias air tawar ini menjadi hewan pilihan utama dalam aquascape karena indah dipandang, ramah, mudah berkembang biak, dapat membersihkan kotoran dalam aquarium bahkan dapat hidup berdampingan dengan jenis ikan tertentu.

Potensi budidaya udang hias air tawar sebagai lahan bisnis saat ini cukup besar. Mengingat permintaan udang hias tidak hanya datang dari pasar ikan hias lokal, tetapi sudah diminati pasar ekspor, seperti Jepang, Thailand, Singapura dan Jerman.

Setelah mampu mengembangkan pembudidayaan Red Rilly, mereka menyiapkan sistem pemasaran secara manual dan online dengan cara dititipkan pada penjual-penjual ikan hias baik dan memanfaatkan berbagai platform digital, serprti WhatsApp, Facebook, Instagram dan media sosial lain. Harga jual Red Rilly per ekor bisa mencapai Rp 2.000 hingga Rp 3.000 tergantung ukuran besar kecilnya.

Dosen pendamping kegiatan tersebut, Ali Imron, yang memberikan bimbingan atau pendampingan pelaksanaan program juga terus memotivasi tim untuk selalu berpikir kreatif dalam meningkatkan kapasitas diri baik di bidang akademik ataupun non akademik terlebih diera milenial ini.

Untuk itu pemanfaatan teknologi yang berkembang dengan pesat ini mampu dimanfaatkan dengan baik untuk memenuhi kebutuhan atau gaya hidup yang terus berkembang pesat. (ade)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.