Mahasiswa Undip Olah Sampah Organik Rumah Tangga Jadi Cairan Multiguna Eco-enzyme

Produk Eco-Enzyme Dari Sampah Organik Limbah Rumah Tangga. Foto : ist/metrojateng.com

BATANG, METROJATENG.COM –  KKN (Kuliah Kerja Nyata) merupakan bentuk kegiatan pengabdian dan pemberdayaan kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu.

Universitas Diponegoro menjadi salah satu Universitas yang melaksanakan kegiatan KKN di tengah maraknya wabah Covid-19, namun dalam pelaksanaan kegiatan KKN ini mahasiswa yang terjun ke lokasi KKN selalu menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 secara ketat dan mematuhi kebijakan yang berlaku.

KKN Universitas Diponegoro berlangsung semenjak tanggal 30 Juni 2021 dan akan berakhir pada tanggal 12 Agustus 2021 dengan mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19 berbasis pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)”.

“KKN pada kali ini dilakukan secara mandiri dan ditempatkan berdasarkan lokasi domisili masing-masing. Salah satu program kerja yang dilaksanakan adalah sosialisasi pembuatan ekoenzim sebagai pemanfaatan limbah organik rumah tangga. Eco-enzyme adalah hasil fermentasi sampah organik berupa sisa-sisa sayuran dan kulit buah”, kata Dyah Ernawati, Mahasiswa KKN Undip.

Desa Kepuh merupakan salah satu lokasi dilaksanakannya KKN. Desa Kepuh terletak di Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Salah satu kendala atau masalah yang dialami petani di desa Kepuh adalah terbatasnya jumlah pupuk yang disediakan oleh pemerintah. Dengan adannya program sosialisasi pembuatan Eco-enzyme ini diharapkan petani dapat membuat pupuk alami dengan konsep Eco-enzyme.

Pemanfaatan Eco-enzyme tidak hanya terbatas untuk pupuk saja, ternyata Eco-enzyme juga dapat digunakan untuk cairan pembersih dan pengusir hama tanaman. Penggunaan Eco-enzyme sebagai larutan pupuk dan pembersih alami berkontribusi menjaga lingkungan bumi kita. Larutan pembersih komersial yang ada sekarang sering kali mengandung berbagai jenis senyawa kimia seperti fosfat, nitrat, amonia, klorin dan senyawa lain yang berpotensi mencemari udara, tanah, air tanah, sungai dan laut. Pemanfaatan Eco-enzym dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga terutama sampah organik yang komposisinya masih tinggi.

Produk Eco-enzyme merupakan produk ramah lingkungan yang mudah digunakan dan mudah dibuat. Pembuatan Eco-enzyme hanya membutuhkan air, gula sebagai sumber karbon, dan sampah organik seperti sisa sayur dan kulit buah. Perbandingannya antara air, gula, dan sampah organik adalah 10:1:3. Cara membuat Eco-enzyme sangatlah mudah, cukup campurkan semua bahan yang telah disiapkan kemudian tunggu proses fermentasi kurang lebih selama 3 bulan. Eco- enzyme yang terfermenetasi dengan baik memiliki bau yang segar.

Dalam pembuatannya, Eco-enzyme membutuhkan container berupa wadah yang terbuat dari plastik, penggunaan bahan yang terbuat dari kaca sangat dihindari karena dapat menyebabkan wadah pecah akibat aktivitas mikroba fermentasi. Eco-enzyme tidak memerlukan lahan yang luas untuk proses fermentasi seperti pada pembuatan kompos dan tidak memerlukan bak komposter dengan spesifikasi tertentu.

Kegiatan dilaksanakan dengan melakukan sosialisasi kepada warga RT 01 dan RT 02 RW 1 Desa Kepuh secara door to door pada tanggal 25-26 Juli 2021. Pada kegiatan sosialisasi diawali dengan tanya jawab terhadap cara pengelolaan sampah rumah tangga apakah sudah benar atau belum.

Setelah itu, melakukan sosialisasi dengan menyajikan Power Point dan video tutorial cara membuat Eco-enzyme. Setelah itu dilakukan pembagian produk Eco-enzyme kepada beberapa masyarakat. Respon masyarakat sangat baik dengan adanya program sosialisasi ini, masyarakat juga aktif bertanya seputar Eco-enzyme.

“Program ini diharapkan dapat memberikan dampak yang baik terhadap warga terkhusus RT 01 dan RT 02 RW 01 Desa Kepuh dalam memanfaatkan sampah disekitar yang biasanya hanya dibuang percuma, sehingga menjadi barang yang memiliki dayaguna serta dapat pula mengurangi menumpuknya sampah yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit”, tutup Dyah.(ris)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.