Mahasiswa UMS Tolak Politisasi Kampus

Mereka menilai pada proses perkuliahan, diketahui ada bentuk-bentuk penggiringan opini yang dilakukan oleh para dosen maupun pimpinan kampus.

SUKOHARJOMahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar unjuk rasa di halaman Kantor Rektorat atau Gedung Induk Siti Walidah, Kamis (11/4/2019). Aksi ini dipicu adanya upaya penggiringan untuk memilih calon tertentu dalam Pemilu mendatang. 

Aksi mahasiswa UMS menolak politisasi kampus, Kamis (11/4/2019). Foto: metrojateng.com

Mereka menilai pada proses perkuliahan, diketahui ada bentuk-bentuk penggiringan opini yang dilakukan oleh para dosen maupun pimpinan kampus. Padahal, sesuai pedoman perguruan tinggi (PT), jika pimpinan universitas, pimpinan fakultas sampai dosen dilarang keras untuk mengikuti kegiatan politik praktis.

“Aksi ini bentuk keresahan dan kekecewaan mahasiswa kepada pihak universitas, karena adanya bentuk-bentuk penggiringan opini. Bahkan pimpinan universitas maupun dosen melakukan politik praktis di dalam kampus,” kata koordinator lapangan (korlap), Hanif Rudin.

Hal itu terbukti dengan adanya dosen saat memberikan mata kuliah di beberapa fakultas melakukan penggiringan opini kepada pasangan calon (paslon) presiden nomor 02. Di mana kebaikan-kebaikan paslon 02 di sanjung-sanjung, sedangkan kritik yang berlebihan diberikan kepada paslon 01.

“Baik 01 atau 02, kami sama-sama menolak, karena kegiatan politisasi kampus dilarang penuh. Kampus harus netral dari politik dan bisa mematuhi aturan yang sudah ada,” ungkapnya.

Terpisah, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UMS, Taufik Kasturi mempertanyakan seruan mahasiswa soal politisasi kampus. “Di UMS ini tidak ada satu sistem atau instruksi yang mengatur untuk memilih salah satu paslon. Tapi masing-masing orang itu punya kecenderungan sendiri pada pilihannya, itu yang dianggap mereka melakukan politisasi,” terang Taufik. (MJ-28)

Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.