“Loncati Pagar Berduri”, Diluncurkan Setelah Mengitari Amerika Serikat,

Album Terbaru AK//47

Album terbaru ini merupakan respons terhadap kejadian-kejadian di Bumi Nusantara. Kaum LGBT ditangkap, tempat ibadah diserang, komoditas hoaks di media sosial

SEMARANG – Grup band grindcore asal Semarang, AK//47, merilis album ketiga bertajuk “Loncati Pagar Berduri”. Terdapat 13 komposisi grindcore dengan topik distopia dan aneka dekadensi akal sehat dalam masyarakat modern.

“Album terbaru ini merupakan respons terhadap kejadian-kejadian di Bumi Nusantara. Kaum LGBTQ ditangkap, tempat ibadah diserang, komoditas hoaks di media sosial serta isu rasisme dalam kepentingan politik. Itu adalah sebagian dari adaptasi kemarahan yang afdol dalam musik grindcore kami,” ujar Garna Raditya, vokalis dan gitaris AK//47 lewat siaran pers.

Tema tentang imigran, chauvinisme, fasisme, homophobia termaktub dalam lagu-lagu AK//47 yang seluruhnya memakai Bahasa Indonesia. Seperti “Bebas Berkelamin”, “Menggugat Manusia!”, “Grinkor Petir!, “Ayat untuk Menyayat”, “Kepada Bunga yang Masih Tumbuh di Beton”, “Botol, Bensin dan Mawar Untukmu” dan lainnya.

Seluruhnya dikemas dalam kemarahan gerinda punk yang beringas dan progresif yang dirilis oleh Lawless Jakarta Records (CD) dan Disaster Records (kaset). Album ini tak lepas dari pengaruh nuansa grindcore 90an. Discordance Axis, 324 dan hardcore ala Disrupt dan Totalitar.

Proses rekaman album ini berlangsung di di Girez Studio, Semarang pada Maret hingga awal April 2018 lalu. Garna Raditya mengisi vocal dan gitar, Novelino Adam mengisi bassis dan vocal, sedangkan Yogi Ario mengisi drum.

 

Tur Keliling Amerika Serikat

Album AK//47 sebelumnya, “Verba Volant, Scripta Manent” yang diluncurkan tahun 2016 lalu, masuk dalam 20 album terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia. Peluncuran album itu sendiri disusul dengan kepindahan Garna ke Amerika Serikat (AS).

Setelah itu muncul prediksi proyek AK//47 tidak akan berlanjut. Tapi ternyata tidak begitu. Sebagai imigran, Garna tetap meniti karier bermusiknya di Oakland, California, AS. September 2017, Damian Talmadge dan Mark Miller bergabung dengan AK//47 sebagai personel tambahan.

grindcore semarang
AK//47 dengan formasi AS bersama band yang membarenginya dalam tur keliling AS. (foto: dokumentasi AK//47)

Damian Talmadge yang merupakan anggota band Violent Opposition dan bekas anggota Lack Of Interest, memainkan bas AK//47. Sedangkan Mark Miller, bekas anggota Anisoptera memainkan drum. Bersama Damian dan Mark, Garna menjalankan proyek AK/47 di AS.

Saat penggarapan “Loncati Pagar Berduri”, Garna pulang ke Semarang. Setelah itu ia kembali ke AS, membawa rencana tur bersama personel tambahan itu. Dengan begitu, tur AK//47 di AS tidak terhalang urusan imigrasi dan tiket penerbangan.

Tur pertama berlangsung sejak 20 April hingga 1 Juni 2018 lalu. Selama itu, AK//47 menyusuri West Coast, menyinggahi 23 kota di negara bagian California, Washington, Oregon, Utah, Idaho dan Montana. Tur kedua berlangsung sejak 16 Oktober hingga 17 November 2018. Dari West Coast, AK//47 mengitari 21 kota hingga East Coast. Dimulai dari negara bagian Oregon, Idaho, Utah, Colorado, Kansas, Missiouri, Maryland, New York, Pennsylvania, Michigan, Wisconsin, Minnesota, North Dakota, Montana, Washington, dan California. Tur berakhir di San Fransisco, California.

Kali ini, AK//47 tak sendiri. Ia dibarengi band Violent Opposition asal Oakland, California. Selama delapan kota pertama, tur berlangsung bersama grup grindcore legendaris Antigama asal Polandia. Selain itu, band Rottenness asal Meksiko juga membarengi pertunjukan, serta beberapa pertunjukan dengan Cognizant dari Dallas, Texas. AK//47 yang memiliki chapter di AS yang disebut-sebut sebagai band grindcore Indonesia yang melangsungkan tur terpanjang di AS.

Video musik single bertajuk “Lempar Petasan ke Podium” telah dirilis pada bulan Juli lalu. Kini  AK//47 sedang mengerjakan video dokumenter dari perjalanan tur 45 pertunjukan pada 41 kota di AS tersebut. “Dokumenter ini sebagai selebrasi 20 tahun AK//47 di tahun 2019, sekaligus upaya mengarsipkan awal perjalanan kami hingga saat ini,” terang Garna. (*)

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.