Lolos Degradasi, CEO PSIS Sindir Haters

Mahesa Jenar berhasil finish di atas tim bertabur bintang, Bali United yang berstatus runner up musim lalu.

SEMARANG – CEO PSIS Semarang, Alamsyah Satyanegara Sukawijaya membeberkan kunci keberhasilan timnya bertahan di Liga 1 2018. Melalui akun Instagram miliknya, pria yang biasa disapa Yoyok Sukawi ini juga menyindir para hater yang meragukan kualitas Tim Ibukota Jateng.

Skuad PSIS menjalani pertandingan terakhir Liga 1 2018 di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Sabtu (8/12). Foto: metrojateng.com/Instagram @psisfcofficial

PSIS menuntaskan kompetisi di peringkat 10 dengan perolehan poin 46. Hari Nur Yulianto dkk memetik 13 kemenangan, 7 kali seri dan 14 kekalahan.

Pencapaian tersebut melampaui ekspektasi jajaran Manajemen Mahesa Jenar yang sebelumnya hanya menargetkan lolos dari degradasi. Bahkan mereka berhasil finish di atas tim bertabur bintang, Bali United yang berstatus runner up musim lalu.

Padahal tahun ini merupakan musim pertama PSIS berlaga di kompetisi kasta teratas, setelah terdegradasi di musim 2008/2009. PSIS berhasil merengkuh tiket promosi sebagai peringkat ketiga Liga 2 2017 usai memenangi pertandingan dramatis atas Martapura FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api yang berkesudahan 6-4.

Mereka harus ‘terusir’ dari Semarang karena Stadion Jatidiri masih direnovasi dan terpaksa berhome base di Stadion Moch Soebroto Magelang. Nahkoda tim berganti sebelum musim bergulir, dari Subangkit ke Vincenzo Alberto Annese.

“Awal musim PSIS dianggap tim lemah, pemain kasta kedua, buangan, miskin, sekadar mampir minum, kampungan. Bahkan sebagian pendukung pesimis bisa bersaing melawan raksasa-raksasa Liga 1,” cuit Yoyok dalam postingan yang diunggah pada Senin (10/12/2018).

http://

View this post on Instagram

2018 musim berat u/ PSIS, jadi tim musyafir lemahkan finansial & kekuatan utama bermain dikandang. Persiapan yg terlambat akibat mepetnya jadwal final liga 2 sulitkan berburu pemain baru. Awal musim PSIS dianggap tim lemah, pemain kasta kedua, buangan, miskin, sekedar mampir minum, kampungan, bahkan sebagian pendukung pesimis bisa bersaing melawan raksasa2 Liga 1. Masalah dtg silih berganti, pergantian pelatih, disusul ketidak percayaan sebagian pendukung terhadap management, #savemantan #managemenout #pemainout, bergaung ditengah usaha berjuang memperoleh kemenangan. Hinaan & cacian trs menekan, menguji loyalitas tim. Namun tak disangka msh byk pendukung fanatik yg terus memberikan dukungan, panser biru & snex terus datang di Magelang, mematahkan mitos tim musyafir berjuang sendirian, membuat kami masih bersemangat u/ terus berjuang. Puncaknya, akhir putaran pertama, kita menambah pemain seperlunya sesuai kebutuhan, hal ini dianggap management tdk mampu merekrut pemain bintang, tdk py uang, bahkan ada orang datang u/ sumbang uang krn beranggapan klub tdk mampu membeli pemain, astaghfirullah… Selanjutnya putaran kedua dimulai dgn konsentrasi penuh, evaluasi menyeluruh, kami berikan pelatih 2 match tambahan u/ mengangkat tim dari keterpurukan, namun gagal, maka diputuskan perombakan pelatih Keputusan merekrut pelatih baru berpengalaman dgn kemampuan komunikasi teruji namun dianggap lagi sebagai ketidakmampuan finansial management Evaluasi2 dilakukan, ikhtiar & doa, komunikasi tim baik, semangat, dukungan, management all out, pelan pasti, peningkatan performa & prestasi. Kemenangan2 kejutan kita raih, hinaan menjadi pujian, tekanan menjadi kekuatan, PSIS telah kembali disegani, ditakuti, pemain2 kasta kedua menjadi pemain2 bintang, alhamdulillah…. Akhir musim, PSIS berada pd peringkat 10, lebih baik dr target awal lolos degradasi, kita berada diatas tim bertabur bintang Bali United. Terima kasih, Panser Biru, Snex, warga Semarang, warga Magelang, warga Jawa Tengah, manajemen, pelatih,keluarga besar PSIS semarang, istriku, ayah, ibu dan anak2ku Terima kasih juga buat haters, tkg bully & tkg maido #yoyoksukawi #westerbukti

A post shared by A.S.Sukawijaya Yoyok Sukawi (@yoyok_sukawi) on

PSIS mengarungi kompetisi tanpa pemain-pemain bintang. Mayoritas adalah pemain dari Liga 2. Hanya kiper Jandia Eka Putra, bek Gilang Ginarsa dan winger Komarudin yang punya pengalaman di Liga 1.

Pemain asing yang diikat juga benar-benar ‘asing’ di telinga. Bruno Silva dan Petar Planic baru tahun ini bermain di Indonesia. Sedangkan Ibrahim Conteh yang pernah merasakan atmosfer Liga 1 masih kalah tenar dibandingkan Makan Konate, Zah Rahan maupun bintang Bali United, Nick van der Velden.

Juara Liga Indonesia 1999 juga sempat bermasalah dengan pemain asing Asia. Penampilan mengecewakan gelandang Kyrgyzstan, Akhlidin Israilov membuatnya didepak sebelum paruh musim.

Penggantinya, Abou Bakr Al-mel hanya bertahan sebulan. Top skor Liga Lebanon itu hanya memainkan tiga pertandingan bersama Mahesa Jenar.

Perombakan di paruh musim dinilai kurang memuaskan. Selain mengganti Annese dengan Jafri Sastra, manajemen lagi-lagi tidak mendatangkan pemain berlabel bintang. Tiga penggawa PSIS U-19 dipromosikan ke tim senior, plus merekrut Joko Ribowo, Nerius Alom dan M Wahyu.

Tapi, penampilan PSIS justru semakin menanjak di paruh kedua. Mereka tak pernah kehilangan angka saat bermain di kandang, sejak kalah 1-2 dari Bhayangkara FC di pekan ke-20.

“Kemenangan-kemenangan kejutan kita raih, hinaan menjadi pujian, tekanan menjadi kekuatan. PSIS telah kembali disegani, ditakuti, pemain kasta kedua menjadi pemain-pemain bintang, alhamdulillah…. Akhir musim, PSIS berada di peringkat 10, lebih baik dari target awal lolos degradasi, kita berada di atas tim bertabur bintang Bali United,” beber Yoyok.

Dua penyerang yang dimiliki PSIS, Bruno Silva dan Hari Nur Yulianto masuk lima besar dalam deretan duet tersubur di Liga 1. Kolaborasi dua pemain ini menghasilkan 26 gol dari total 39 gol Mahesa Jenar.

Setelah pertandingan terakhir melawan Persebaya Surabaya, Sabtu (8/12), pemain PSIS diliburkan sepekan. Mereka juga masih punya kewajiban bermain di babak 32 besar Piala Indonesia melawan Persik Kendal yang sampai sekarang belum ada jadwal resminya. (twy)

Ucapan Lebaran 1440
Anda mungkin juga berminat

Tidak bisa berkomentar. Sudah ditutup.