Lebaran Usai, Warga Kudus Gelar Sewu Kupat

image
Tradisi sewu kupat warga Desa Colo, Dawe, Kudus sebagai penanda berakhirnya masa lebaran dilangsungkan di Taman Colo Ria. (Metro Jateng/Rhobi Shani)

KUDUS – Ribuan warga Kabupaten Kudus, pada Jum’at (24/7) siang, berdesak-desakan berebut ketupat pada acara tradisi Sewu Kupat di Desa Colo Kecamatan Dawe. Sebelumnya, ribuan ketupat yang jadi rebutan warga didoakan di makam Sunan Muria. Tradisi ini untuk merayakan syawalan sekaligus mengakhiri puncak perayaan lebaran.

Dari pagi, ribuan warga yang sudah menunggu di Taman Colo Ria, menanti kedatangan arak-arakan sewu kupat dari makam Sunan Muria usai didoakan. Saking tak sabarnya, begitu Bupati Kudus Mustofa, selesai berpidato, warga tak sabar untuk berebut ketupat meski belum di doakan. 

Warga langsung merangsek dan berebut ketupat. Tak hanya ketupat, berbagai hasil bumi khas Gunung Muria seperti petai, ketela, pisang byar, dan pepaya turut diperebutkan warga. Tak hanya anak-anak, banyak orang tua bahkan nenek-nenek yang ikut berebut untuk sekedar mendapatkan ketupat. Namun yang paling diperebutkan adalah gunungan berselimut kain putih. Gunungan ini merupakan gunungan kepala sebagai simbol sedekah dari Sunan Kudus kepada masyarakat sekitar Masjid Muria.

Bupati Kudus Musthofa menyampaikan, tradisi seribu kupat merupakan terusan tradisi yang selalu dilakukan Sunan Muria. Yaitu, bersedekah kepada masyarakat. Kemudian dilestarikan hingga sekarang.

“Tradisi ini merupakan peninggalan Sunan Muria sebagai bentuk wujud bersedekah kepada masyarakat, sehingga harus ditauladani dan dilestarikan,” ujar Mustofa.

Lebih lanjut Musthofa menceritakan, tradisi sewu kupat dilaksanakan tujuh hari yang menandakan akhir dari masa lebaran. Dengan simbol ketupat, ditambahkan Musthofa, bermakna permintaan maaf, yaitu dalam bahasa Jawa kula lepat.

Sementara itu, tokoh masyarakat desa setempat, Agus Imakudin, mengatakan, tradisi seribu kupat yang kemudian diperebutkan tersebut bukan berarti mengkultuskan Sunan Kudus sebagai cikal bakal masyarakat Desa Colo. Namun, sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang dilimpahkan tuhan dari hasil bumi yang mereka garap. (Oby)

Anda mungkin juga berminat

Tuliskan Balasan

Alamat email Anda tetap rahasia dan tidak kami simpan.

50 + = 60

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.